Selasa, 14 April 2015

Penelitian Serupa Liburan
Oleh Risda Maleva Juni

Seperti biasa, pagi ini mama teriak lagi dari lantai bawah untuk membangunkan gue tidur. Bedanya ini lebih awal, ketika gue liat HP jam menunjukkan pukul 04.50 am.  “Hoams” rasa ngantuk ini masih sangat melekat, tapi teriakan mama tak bisa terhindarkan lagi, pukul 05.08 am gue bangun keluar dari kamar dan turun untuk mandi.
Hari ini dan dua hari kedepan gue mau ke Pengalengan dan Kampung Naga buat penelitian, meskipun gue kurang tau apa yang mau gue teliti. “Hems”  sekarang saatnya check lish: Packing udah, mandi udah, sholat udah, penampilan udah kece, uang jajan juga udah dikasih, berati saatnya berangkat.
bis (4).JPGPukul 06.07 am baru mau jalan, takut telat. Dianter papa cuma sampe halte Busway Halimun karena papa juga harus berangkat kerja. Untungnya TransJakarta sedang bersahabat dan mengantarkan gue ke kampus pukul 06.47 am. Setelah keluar dari halte Busway Rawamangun gue harus jalan kaki menuju bis yang parkirnya BNI, lumayanlah buat olahraga pagi.
Ketika sampai bis ternyata gue nggak telat, masih nunggu mereka yang belum dateng. Di bis gue duduk sama Syifa, temen yang selalu bilang kalo gue punya dunia sendiri dan pelupa. Setelah semua kumpul, bis mulai jalan dan semuanya berdoa agar selamat sampai tujuan.
Di bis gue diem aja dan emang lagi nggak mod untuk percanda. Temen-temen ada yang ketawa kecicikan, nyanyi-nyanyi sambil ngebully Chuaby, buat  video harlem shake, stand up comedy, dan iseng motoin mereka yang sedang tidur. Sialnya ketika gue tertidur, terdengar suara potret kamera arip yang moto muka gue. Gue langsung bangun buat nutup muka dan gue nggak tau foto muka tidur gue itu udah tercipta atau belum “Hoams”.
kebun (7).JPGDi perjalanan gue pusing, mual tapi untungnnya belum muntah. Ba’da zhuhur bis berhenti di tempat makan, kami semua makan nasi, ayam goreng, tahu tempe, dan lalapan beserta sambal. Setelah itu gue sholat zhuhur dan ada juga mereka yang menggabungkannya dengan ashar, tapi gue zhuhur aja deh, sepertinya masih ada waktu lagi nanti.
Akhirnya sampai di Pengalengan, daerah yang terkenal sebagai tempat produksi susu sapi. Disini cuaca agak dingin, pemandangannya indah, ada perkebunan teh, kopi, dan sayur mayur, awan di langin nampak cerah, udara siang menjelang sore ini pun masih segar meskipun sedikit tercium bau asap rokok dari beberapa orang yang membakarnya.
kopi (16).jpgDi Pengalengan gue kebagian untuk neliti perkebunan kopi, untuk sampai ke perkebunan kopi ternyata cukup jauh dan nggak mudah, kami harus melewati rumah-rumah warga, perkebunan teh dan sayur mayur yang jalannya terjal menurun.
kopi (4).JPGDi perkebunan kopi gue mendapat narasumber bernama kang Asep, disana terdapat dua jenis kopi, yaitu kopi Timtim dan kopi Arabika, bedanya daun dan buah kopi Timtim itu lebih besar. Buah kopi yang dipetik untuk disetor ke pengempul itu berwarna merah, dan  biasanya dipetik tiap 15 hari sekali. Untuk Luwak pun juga hanya mau makan buah kopi yang sudah berwarna merah.
Perkebunan kopi itu hutan pemerintah, lima tahun yang lalu ada penyuluhan dari pemerintah untuk menanam kopi. Penyuluhannya yaitu cara untuk menanam dan perawatan tanaman kopi, untuk memulainya petani harus modal sendiri untuk membeli bibit dan pupuk. Tanah dibolehkan menggunakan hutan pemerintah, namun setiap keuntungannya 15% harus disetor ke pemerintah.
Jika dilihat dari segi keuntungan, jelas menanam kopi lebih untung kerena tidak perlu ada penanaman ulang. Tanaman itu terus tumbuh dan berbuah namun jika sudah mencapai ketinggian 2 meter, tanaman kopi itu harus dipotong supaya tidak susah memetiknya.
Memang lumayan banyak petani yang berkebun kopi, sehingga tidak terlihat ada persaingan. Mereka merasa karena sudah sama-sama punya perkebunan, jadi sudah memiliki bagiannya masing-masing dan tidak ada juga sikap saling curiga.
kelompok (3).JPGUntuk pengembangan kopi Luwak di  wilayah ini memang tidak ada, terkendala alat, akses, serta Luwaknya sendiri yang langka. Jadi mereka hanya mengumpulkan biji kopi yang sudah dikeringkan kepada pengempul. Keinginan untuk pengembangan produksi kopi yang lebih baik bagi para petani pastinya ada, namun dengan keterbatasan mereka, mereka sudah merasa cukup sampai ketangan pengempul.
Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 05.00 pm, tapi gue masih sempat mengunjungi kandang sapi milik salah satu warga. Sapinya gendut dan berwarna putih hitam, lucu deh. Sebelum menuju bis, sholat ashar dulu dan tidak lupa beli permen susu khas Pengalengan.
Setelah itu bis jalan menuju rumah makan yang tadi, perut ini masih kenyang sekali rasanya. Ketika sampai disana, menu makanannya sama lagi. Akhirnya makan berdua Syifa, tapi ambil ayamnya dua hehe. Kemudian sholat magrib dan masuk bis lagi menuju penginapan di Garut.
Di perjalanan gue bener-bener ngerasa mual, Syifa udah ngasih minyak kayu putih dan obat antimo tapi nggak mempan, gue pun tiba-tiba muntah (muntah ayam). Sesampainya di penginapan, gue bareng sama Ayu, dan giliran dia yang muntah. Gue udah urut-urut lehernya, eh lucunya dia malah nangis. Ayu ayu.. dasar ayu.
lembayung (2).jpgMasuk kamar gue pun langsung rapih-rapih diri, ganti baju dan tidur. Gue sekamar sama Ayu, Chuaby, Nadila, Dedew, Apem, Anti, Wila, Joang, Farah, dan Riri. Mereka masih pada asik percanda gue udah tidur pules. Sampai gue kebangun karena suara berisik ternyata mereka lagi pada main tindih-tindihan. Gue nggak tau apa-apa namanya juga orang tiba-tiba kebangun, eh si joang nanya:
“Tidur da?”
“Enggak.” Jawab gue sambil melambaikan tangan.
Eh gue malah ditindihin. Ternyata permainannya, siapa yang bersuara, dia yang di tindihin. Kaget, nggak tau apa-apa malah jadi korban. Pas di tindihin malah gue sempet bilang:
“Woi, gue lagi nggak ulang tahun juga.”
Biasanya kan yang dikerjain yang ulang tahun, soalnya si Chuaby pada saat itu lagi ulang tahun, ilang langsung rasa ngantuk gue. Yaudah akhirnya gue nyeduh super bubur dan makanin cikinya Riri, eh syaratnya suruh ngerekam mereka Harlem Shake. Sungguh nggak bisa diem temen-temen sekamar gue ini.
bebek.jpgSabtu pagi tiba, gue udah mandi nih, udah cantik, dan udah aikeching juga. Keluar kamar untuk menjajah kamar lain, masuk ke kamar si Oby Cuantik bisa makan chitato, wafer sama bolu coklat sambil memberi makan bebek-bebek yang sedang pada berenang. Masuk ke kamar Maria alias BCL nggak ada makanan, akhirnya cuma tidur-tiduran aja.
Saatnya sarapan, dan lagi-lagi ayam namun tetap gue coba nikmati. Menikmatinya di Saung bersama Ayu, Dila, dan Chuaby sambil cerita sedih tentang teman sajawat yang tidak bias ikut bersama kami dan kami begitu tersentuh dengan apa yang dia derita. Sarapan sudah kemudian presentasi, ya mungkin itu hanya sebuah formalitas, menceritakan tentang pengamatan kami di Pengalengan kepada dosen.
Setelah  itu siap-siap ke bis untuk menuju ke Kampung Naga, obat Tolak Angin sudah disiapkan. Di perjalanan, bau bis sungguh menyiksa. Gue sedot sedikit demi sedikit obat Tolak Angin itu, namun tetap gagal, gue pun muntah (muntah ayam lagi). Sekarang gantian Ayu yang ngerawat gue, ngusapin minyak ke badan, leher, dan hidung gue. Dila pun ngerokin gue di bis saat yang lain pada turun untuk makan.
Jujur nggak pengen turun untuk makan, tapi akhirnya di paksakan untuk makan. Gue ambil sedikit nasi dan ikan serta kuah sayur sop, gue minum seteguk demi seteguk air teh hangat. Salah satu dosen menyuruh gue untuk minum promag, gue ragu karena ini bukan maag, tapi harus gue minum juga, “Hoams” yasudah.
kampung (36).JPGMasuk lagi ke bis menuju Kampung Naga, beberapa saat kemudian gue pun muntah lagi (kali ini muntah ikan), ternyata promag pun tak ampuh. Sudah tiga jenis obat yang masuk tapi tidak ada satupun yang ampuh.
Akhirnya sampai ke Kampung Naga, tapi untuk masuk perkampungan itu harus turun melewati anak tangga yang jumlahnya 400an. Ketika gue turun, gue nggak sempet ngitung berapa jumlah anak tangga itu, karena gue ngedampingin Gerhana yang lagi nggak enak badan.
bale (2).jpgDi Kampung Naga gue menginap di rumah nenek Rosi dan Kakek Wahidi. Ketika gue pertama kali dateng, gue langsung nanya kamar mandi dimana. Bodohnya, karena gue baru sadar kalau semua rumah tidak ada yang punya kamar mandi. Jika mau mandi harus pergi ke luar yang tempatnya ada di luar perumahan warga, tempatnya agak terbuka yang tingginya hanya sekitar satu sampai satu setengah meter. Untuk buang air kecil atau besarpun harus pergi ke jamban dan tidak ada listrik.
Kemudian kami semua berkumpul di “bale” sebuah tempat untuk berkumpul di daerah Kampung Naga. Disini kuncen atau sesepuh yang di hormati memberikan sambutan,  penjelasan serta tanya jawab dengan mahasiswa mengenai Kampung Naga ini. Memang agak sedikit terbatas, sehingga kamipun diajak berkeliling Kampung Naga oleh para pemandu yang sekaligus memberi kesempatan untuk bertanya tentang sesuatu yang masih jadi tanda tanya para mahasiswa.
Selesai dari semua itu kami semua balik ke rumah warga yang di tumpanginya masing-masing. Masuk ke rumah nenek Rosi lagi kami sudah disuguhkan makan malam, dan lagi-lagi ayam. Ya Tuhan bisa mabok ayam deh ni gue. Selama di rumah nenek Rosi, gue, Farah, dan Anti hanya diem dan memperhatikan nenek Rosi, Chuaby dan Dila berbicara pakai logat sunda, tapi tetep gue deketin mereka dan mendengarkannya mau itu ngerti ataupun enggak.
rumah (2).JPGKetika hari sudah menjelang malam, nenek Rosi mengeluarkan bantal untuk kami tidur, sebelum itu kami duduk bersama bercengkrama tentang Kampung Naga ini. Di sela-sela perbincangan, terselip kisah cinta nenek Rosi dan kakek Wahidin. Kami tertawa mendengarkan mereka berdua bercerita saat awal mereka kenal, pacaran, nikah, dan hingga sekarang.
Ketika kami menengok kamar nenek Rosi dan Kakek Wahidin, kami bingung kenapa ada dua ranjang yang dibatasi triplek. Ternyata mereka memang sudah lama tidak seranjang, bukan karena cerai tapi karena sudah bosan. Pernikahan mereka memang sudah setengah abad lebih dan menghasilkan satu anak lelaki yang menikahi salah satu anak wanita kuncen Kampung Naga.
kampung (8).jpgSetelah kami puas berbincang, rasa kantuk muncul dan kami semua pun tidur. Ketika kami masih terlelap tidur, pukul 02.00 am nenek Rosi sudah terbangun. Entah apa yang dilakukannya, yang kami tahu ketika kami bangun, nenek Rosi sedang memasak. Chuaby sudah di dapur bersama nenek Rosi dan gue pun menghampiri mereka sambil menghangatkan diri di dekat tungku api tempat nenek Rosi memasak.
Farah dan Dila sudah mandi tapi gue ragu untuk itu. Sugesti tentang air yang tidak bersih serta tempat mandi yang agak terbuka membuat gue nggak pengen mandi tapi akhirnya mandi juga dan itu pengalaman yang benar-benar “WAW” dan nggak akan gue lupain seumur hidup.
Semuanya sudah mandi, sudah packing pula, bertanda sudah saatnya pulang. Sebelum itu nenek Rosi menyuguhkan kami sarapan, tapi gue lebih memilih untuk sarapan super bubur. Bukannya gue nggak suka sama masakan nenek Rosi, tapi gue takut muntah ayam lagi, karena memang menunya ayam lagi.
kampung (44).JPGJoang mengingatkan gue untuk minum obat antimo, tapi gue agak ragu dengan khasiatnya. Joang tetep membujuk dan akhirnya gue minta dan minum antimo punya Alfiani. Setelah semuanya rapih, kami pamit dengan nenek Rosi, ketika salaman nenek Rosi mendoakan kami dengan bahasanya yang tidak kami mengerti, tapi kami yakin pasti nenek Rosi mendoakan kami selamat sampai tujuan.
Untuk kembali ke bis, berarti gue harus menaiki 400an anak tangga itu. Karena gue lagi tidak ada kerjaan, sembari naik tangga gue hitung jumlah anak tangga itu. Dengan nafas yang ngos-ngosan, kaki yang pegel dan punggung yang membawa tas, gue naiki anak tangga itu sampai ujungnya. Terhitung ada 440 anak tangga yang gue hitung tapi itu berbeda dengan hitungan teman yang lain. Entahlah siapa yang benar, yang jelas gue nggak akan menghitung ulangnya lagi.
Pelepasan dilakukan secara adat, setelah itu kami kembali ke bis. Di sepanjang jalan gue tertidur, mungkin obat itu berpengaruh dan gue gk muntah. Berenti di Ciamplas untuk membeli oleh-oleh, gue beli sale pisang, stick daun singkong, kripik ubi ungu, dan kripik tempe buat keluarga tercinta dirumah.

Lanjut lagi perjalanan pulang, semua berjalan lancar. Meskipun gue nggk tertidur, gue mendengarkan musik di HP dengan keras pake henset. Gue menikmati itu dengan menggoyangkan kepala, tangan, dan kaki dengan mulut cuap-cuap. Mungkin itu salah satu dunia gue sendiri yang sering dibilang Syifa. Over all perjalan ini menyenangkan dan pulang di jemput papa lagi. The End  ~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar