Selasa, 20 Januari 2015

Betawi dan Jakarta

Jakarta sebagai Ibukota Negara merupakan pusat pemerintahan, sekaligus pusat perekonomian Indonesia. Hal tersebut menjadi daya tarik pendatang untuk mengadu nasib dan menetap. Mereka datang dari berbagai daerah dengan suku yang berbeda-beda, mempengaruhi eksistensi penduduk asli Jakarta yang bersuku betawi.
Perkembangan kota Jakarta menjadi kota metropolitan secara perlahan dan sadar menyingkirkan penduduk aslinya. Pembangunan gedung-gedung pencakar langit yang dibangun untuk lapangan pekerjaan, hotel dan apartemen yang dibangun untuk tempat tinggal yang bernuansa modern serta mall-mall yang ada untuk memuaskan kebutuhan.
Penduduk asli Jakarta nyatanya tak banyak yang bertahan melawan kuatnya arus pembangunan. Tanah-tanah yang mereka miliki dan tempat mereka tinggal dulunya sangat luas, kini perlahan-lahan pindah tangan “dijual”. Tingkat pendidikan mereka yang rendah serta jiwa religious yang sangat kuat membuat mereka mudah tergiur dengan uang. Uang yang mereka dapatkan dari hasil menjual tanah kebanyakan digunakan untuk naik haji.
Kini Jakarta bukan lagi milik suku betawi tetapi Jakarta milik semua suku yang tinggal di dalamnya. Suku betawi mulai menyingkir ke pinggiran Jakarta ataupun ke daerah lain yang berdekatan dengan Jakarta sepert Depok, Tanggerang, Bogor, dll. Mereka menjual tanah dengan harga yang mahal dan membeli tanah lagi di daerah tersebut dengan harga yang lebih murah, sisa dari uang itulah yang digunakan mereka untuk naik haji ataupun ditabung. 
Nampaknya fenomena tersebut dianggap sebagai masalah oleh Pemerintahan Kota Jakarta, Suku Dinas Kebudayaan. Semakin tersingkirnya suku betawi membuat Jakarta kehilangan identitasnya. Maka dari itu dibuatlah pelestarian Budaya Suku Betawi pada suatu daerah di Jakarta.
Awalnya daerah Condet, Jakarta Timur ditargetkan untuk menjadi Cagar Budaya Betawi pada masa pemerintahan gubernur Sutiyoso namun gagal.  Hal tersebut dikarenakan penduduk dari suku betawinya yang mulai berkurang dan semakin berkembangnya daerah Condet sebagai pusat penjualan minyak wangi.
Berdasarkan penelitian Amri Marzali, Guru Besar FISIP UI menuliskan bahwa strategi pembangunan Cagar Budaya Condet sebenarnya sudah ada sejak zaman Ali Sadikin (1966-1977). Pada masa itu Condet adalah daerah pedesaan, meskipun masih di dalam wilayah Jakarta. Hal itu dikarenakan letaknya yang ada di pinggiran kota, sehingga tidak terlalu terpengaruh oleh pesatnya pembangunan. Penduduknya asli suku betawi yang masih terisolasi dari pusat kota, mereka bekerja sebagai petani buah yang memiliki banyak kebun. Kondisi seperti itulah yang membuat Condet terpilih sebagai Cagar Budaya Betawi.
Pada tahun 1972 terjadi pembangunan jalan raya yang membelah Condet, membentang dari Cililitan hingga Cijantung. Hal tersebut membuka akses Condet dengan pusat kota yang dulunya terisolasi. Tujuan utama pemerintah adalah untuk mempermudah distribusi hasil petani Condet ke pusat kota. Namun ternyata hal tersebut juga dimanfaatkan oleh penduduk di pusat kota, mereka membeli tanah untuk membangun rumah dikarenakan harganya yang masih rendah. Kebun-kebun yang dulunya ditanami dukuh dan salak kini berubah menjadi perumahan. Penduduk asli betawi yang menjual tanahnya itu tersingkir ke luar Jakarta. Codet telah berubah.
Oleh karena itu, dicarilah daerah lain yang cocok untuk dijadikan pelestarian budaya betawi. Sebagai gantinya, terpilihlah daerah Setu Babakan, Jagakarsa, Jakarta Selatan sebagai perkampungan budaya betawi. Disana daerahnya masih asri, banyak pohon-pohon  buah khas betawi seperti kecapi, belimbing, rambutan, sawo, pepaya, melinjo, dan nangka yang tumbuh di halaman rumah maupun di sekitar Setu.
 Kemudian disulaplah daerah Setu Babakan itu menjadi perkampungan budaya betawi, beberapa rumah adat betawi dibangun dan rumah-rumah yang ada dibuat seperti rumah adat betawi meskipun tidak terlalu sama, namun tetap mencirikan rumah khas budaya betawi. Selain itu, diadakan pula kegiatan seni tari betawi, lenong betawi, pencak silat, dan seni musik betawi. Tak lupa, dihadirkan juga berbagai makanan khas betawi seperti kerak telor, laksa, toge goreng, gado-gado, soto betawi, geplak, wajik, rengginang, tape uli, dll.
Pintu masuk perkampungan budaya betawi inipun dibuatkan sebuah gapura besar bertuliskan “Pintu Masuk 1 Bang Pitung, Kebudayaan Betawi Setu Babakan. Ondel-ondel sebagai maskot betawi tak lupa dipajang dipintu masuk dan dihadirkan di dalam perkampungan budaya betawi ini.
Panggung besarpun juga dibuat sebagai tempat penampilan kesenian betawi yang biasanya di hadirkan tiap hari minggu. Kantor pengelola perkampungan budaya betawi juga ada terletak di samping panggung besar tersebut. Semua kegiatan yang dilakukan di perkampungan ini, sudah diatur oleh kepala dan para staff pengelola perkampungan budaya betawi, mengingat bahwa perkampungan ini adalah buatan dari Pemerintah Kota Jakarta dan Suku Dinas Kebudayaan.
Dari luar memang terlihat sangat apik kebudayaan betawi ini di kemas, namun ternyata di dalamnya terdapat dilema bagi penduduk asli betawi. Ketika saya berkunjung ke Perkampungan Betawi Setu Babakan, saya berbincang dengan warga yang tinggal disana, ternyata mereka bukan berasal dari suku betawi, mereka adalah pendatang yang sudah lama tinggal disini.
Rumah-rumah adat betawi yang ada di sana nyatanya tidak semuanya dihuni oleh orang betawi tetapi ada juga yang orang Sumatera. Para penjual yang menjajakan makanan khas betawi kebanyakan warga dari luar Setu, seperti dari wilayah Mampang ataupun Srengseng Sawah. Lucunya disini, saya menemui tukang soto betawi yang penjualnya orang bogor, dan bosnya juga orang bogor yang memiliki lima gerobak yang menjual soto Betawi.
Dilemanya ketika saya tahu bahwa tanah yang sekarang dijadikan panggung pertunjukan dan kantor pengelolah dulunya adalah tanah milik orang betawi, dan kini mereka pindah dan menetap ke wilayah lain. Saya pun menanyakan kebenaran hal ini kepada pihak pengelola dan mereka membenarkannya, namun mereka menjawab orang betawi kan banyak tanahnya, jadi kalo tanah satu di jual masih ada tanah yang lain.
          Kenyataan ini terlihat seperti pelestarian budaya yang memaksakan, pemerintah ingin melestarikan budaya betawi tanpa banyak merangkul orang betawi yang ada. Bukankah lebih alami jika yang melestarikan budaya itu adalah orang yang berasal dari budaya itu sendiri. Bukan orang lain yang hanya ingin mencari keuntungan semata. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar