Selasa, 14 April 2015

Pembangunan Sumber Daya Manusia
Oleh: Risda Maleva Juni

Pembangunan sumber daya manusia dapat diartikan secara umum sebagai upaya-upaya untuk meningkatkan daya produksi manusia. Manusia yang berdaya produksi tinggi disebut sebagai manusia yang berkualitas tinggi. Biasanya pembicaraan tentang pembangunan sumber daya manusia dalam literatur ilmu ekonomi, yang dilakukan dalam konteks pembangunan, memandang manusia sebagai salah satu factor produksi di luar sumber daya alam, modal, dan teknologi (salim 1979; Hidayat 1979; Efendi 1992).
Selanjutnya kualitas seorang manusia sebagai sebuah faktor produksi ditentukan oleh kondisi fisiknya, tingkat pendidikannya, dan keterampilan yang dimilikinya. Manusia yang berkualitas tinggi adalah manusia yang sehat badannya dan memperoleh cukup pendidikan dan pelatihan.
Satu lagi faktor penting penentu kualitas sumber daya manusia adalah mentalitas manusia. Di Indonesia, faktor mentalitas manusia baru akhir-akhir ini saja ramai di perhitungkan orang sebagai unsur penentu kualitas sumber daya manusia (Effendi; 1996). Sedangkan faktor mentalitas ini tidak bisa diukur dengan angka sehingga sulit untuk menilainya.
Mentalitas ini berkaitan dengan etos kerja, nilai, pola pikir, dan pandangan hidup yang dianut oleh manusia itu sendiri. Contohnya kebangkitan kembali Jerman dan Jepang setelah hampir semua insfrastruktur di negeri mereka hancur pada perang dunia II, juga anggap sebagai peranan dari faktor mentalitas bangsa tersebut yang begitu tegar, disiplin, kreativ, inovatif, dan berdaya produksi tinggi.
Faktor mentalitas ini mengacu pada konsep yang mengandung kombinasi aspek kejiwaan dan akal budi manusia yang hidup di dalam satu lingkungan kultur tertentu (faktor psikokultural). Selanjutnya faktor ini dikaitkan dengan usaha untuk berproduksi tinggi, maka faktor ini berubah menjadi daya atau energi. Daya psikokultural ini adalah kemampuan mental, kemampuan akal budi sekumpulan individu dalam mendorong diri mereka untuk berproduksi lebih tinggi.
Di Indonesia, Masalah sumber daya manusia memang terletak pada mentalnya, seperti: sikap yang meremehkan mutu, Sifat yang terlalu bernafsu untuk mencapai tujuan tanpa pertimbangan, Sifat tidak percaya diri dan tidak disipin, Sikap mengabaikan tanggung jawab. Banyak orang perpendidikan tinggi tetapi memiliki mental yang buruk seperti para pejabat yang korup dan hakim yang tidak adil karena menerima suapan. “yang dihakimi dan yang menghakimi sama-sama tidak jujur” perkataan Sukarni Ilyas di Tv one.
Untuk membangun sumber daya manusia, bangsa ini harus dimulai sejak dini, dari situlah mereka tidak hanya dituntut untuk belajar dan mengembangkan keterampilan tetapi juga diajarkan untuk disiplin, kreatif, inovatif, bekerja keras dan jujur sehingga dapat menimbulkan manfaat yang baik bagi pembangunan sumber daya manusia ini.
Sedikit cerita tentang pengalaman saya disaat mewawancarai anak jalan di kawasan kota tua. Disana saya bertemu dengan pengamen cilik bernama Bardi (8th). Bardi adalah salah satu pengamen yang tidak ingin beresekolah karena sudah keasyikan mengamen ditambah lagi dengan penghasilannya yang mencapai 90ribu jika kawasan kota tua itu dipenuhi pengunjung.
Selain Bardi saya bertemu dengan pengamen cilik lain bernama Wahyu (10th). Dia mengamen hanya untuk membantu keuangan keluarganya, jadi dia mengamen disaat libur sekolah ataupun terkadang sehabis dia pulang sekolah.  Wahyu sebenarnya dilarang oleh ayahnya untuk mengamen tetapi dia tetap melakukan itu diam-diam agar setidaknya ia mempunyai uang tabungan untuk masuk SMP kelak yang dititipkan kepada sang ibu.
Berikutnya saya juga punya cerita tentang keluarga kecil yang menggantukan hidupnya dari mengamen di kawasan kota tua tersebut. Ibu Rosidah dengan kedua anaknya agnes dan safitri mengamen sedangkan suaminya tergabung dengan komunitas kuda lumping yang dirangkul oleh unit pengelola kawasan kota tua.
Ibu Safitri datang ke Jakarta akibat janji-janji kakak ipar yang akan memberikan pekerjaan, sehingga dia tergiur untuk menjual tanah rumahnya di kampung (Madura) untuk ke Jakarta dan sisa uangnnya diambil oleh sang kakak ipar. Akhirnya ibu Rosidah dan keluarga terpaksa mengamen, karena ini pekerjaan yang bisa ia lakukan, jika ia menjadi buruh cuci, hasilnya tidak sebanding dengan mengamen.  
Dari pengalam tadi, saya rasa harus ada yang dibenahi dalam mentalitas mereka, dari ruang lingkup yang kecil dahulu (psikokultural). Mental mereka sudah merasa puas dengan apa yang di dapat sekarang, etos kerja mereka yang kurang dan kurang memperdulikan pendidikan. Pemerintah harus ikut perperan serta dalam hal ini, anak-anak jalanan harus ditanamkan nilai nilai mentalitas yang baik agar dapat tercipta kualitas sumber daya manusia yang berkualitas. Dalam hal ini tentunya faktor orang tua sangat berperan penting, orang tua tersebut harus membantu pembentukan mental anak tersebut dengan baik.
Untuk secara menyeluruh, pemerintah harus memperbaiki mental penerus bangsa dengan cara memberikan atau memasukan pendidikan pembentuk mental di setiap sekolah dari Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Atas. Pendidikan pembentukan mental bisa diajarkan oleh guru bimbingan konseling yang tentunya dalam pengajarannya dilihat dari faktor psikokultural masing-masing peserta didik.
Selain dari guru konseling, peserta didik juga dapat belajar tentang pendidikan pembentuk mentalitas dari guru ekonomi, jadi guru ekonomi ini bisa menumbuhkan rasa kewirausahaan kepada muridnya, dari kewirausahaan itu murid dapat belajar untuk bekerja keras (etos kerja yang baik), jujur, disiplin, kreatif, dan inovatif.

 Hal tersebut sesuai dengan teori Arthur Lewis  yang menghubungkan faktor-faktor psikokultural yang mendorong kemunculan para wirausaha dengan masalah lingkungan sosial dan zpolitik yang subur bagi pertumbuhan ekonomi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar