Selasa, 14 April 2015

SINTING

Semilir angin ini seakan menentramkan jiwa. Aku duduk di bangku pojok halaman coffe, ditemani secangkir susu yang sedikit menyegarkan tubuhku. Terdengar suara music jazz yang menghibur seakan menemani diri ini. Sudah lima menit aku menunggu, tetapi Fani belum juga datang. Tiba-tiba ada yang menepuk pundakku dari belakang dan mencium pipiku “maaf maaf ya re gue telat, tadi macet” ujar fani memberi alasan ketelatannya.
“Iya gpp, ada apa ni lo nyuruh gue kesini?” Tanyaku dengan polos.
“Biasalah gue mau tanya gimana hubungan lo sama Tio?” dengan tampang kepo Fani.
“Temen biasa” jawabku singkat.
“Leo?”
“Temen”
“Panji, Agung, dan Sadam?”
“Temen juga !”
Terkadang aku risih, Fani selalu menyodorkan dan mengenalkan lelaki padaku, apa si maunya? Dia memang sahabatku dari awal masuk kuliah, dia selalu bahagia melihat hubunganku dengan Andre, karena Andre adalah lelaki yang baik yang selalu membuatku bahagia. Hingga suatu ketika Andre menelfonku dan mengakhiri hubungan ini. Aku begitu kaget pada saat itu tetapi aku tidak bisa menahannya, memang waktu tiga tahun pacaran adalah waktu yang menjenuhkan, tetapi mengapa dia setega itu menghancurkan hubungan ini.
Fani adalah sahabatku, dia yang paling marah saat Andre meninggalkanku. Dia yang paling peduli menghiburku, tapi cara itulah membuatku risih. Seakan tidak ada jalan lain selain mendekatkan aku dengan teman-teman lelakinya. Hingga sampai kami luluspun Fani masih seperti itu.
“Re, ini sudah empat tahun berlalu. Sampe kapan lo mau gini terus? Andre nggak mungkin balik sama lo. Lu liat facebook kemaren? Andre wisuda, dan sudah ada Luna yang mendampinginya.” Ucap Fani untuk kesekian kalinya menyadarkanku.
“Fani, Andre pasti balik sama gue, dia udah janji kok sama gue kalo suatu saat gue sama dia akan nikah, punya rumah impian dan jalan-jalan ke Belanda. Di selalu bilang gue cinta terakhirnya, dan dia kuliah bekerja itu buat gue!” bentakku.
Suasana diam sejenak, aku tau maksut Fani baik, dia ingin melihatku bahagia, tapi itu malah menyiksaku. Andre tidak akan tergantikan, sekalipun dia sudah meninggalku karena Luna, adik kelasnya yang merusak hubunganku. Fani terdiam dan membuka laptop.
“Nih liat ! (menyerahkan laptop kepadaku) liat jari manis Luna yang sudah berhiaskan cincin cantik dari Andre. Mereka udah tunangan, masih juga lo berfikiran seperti tadi? Berharap Andre akan kembali dan nikahin lo? Gimana dengan Luna? Dasar Sinting!”
“Lo temen gue apa Luna? Lo kenal Luna pun enggak, tapi kenapa lu seakan membela dia dan nyakitin gue!”
“Rere sadar ! gue bukan bela Luna dan nyakitin lo, tapi disini lo harus terima kenyataan kalo Andre nggak mungkin balik sama lo, lo nggak bisa ngikutin ambisi lo yang nggak mungkin” ucap Fani dengan sabar menasihatiku.
“Fan, gue sayang sama Andre. Gue mau nunggu dia Fan, please jangan buat gue tersiksa” (menangis dipundak Fani).
“Yaudah re kalo itu emang mau lo, maafin gue ya” menenangkanku.

Udara semakin dingin, lampu lampu taman disekeliling caffe sudah menyala. Malam datang menjemputku untuk pulang. Aku ingin istirahat saat ini, lelah sekali rasanya, bukan Cuma tubuhku tetapi juga hatiku. Untunglah ada Fani, dia menguatkanku dan mengantarkan aku pulang. Terimakasih Fani, terimakasih sahabatku J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar