SINTING
Semilir angin
ini seakan menentramkan jiwa. Aku duduk di bangku pojok halaman coffe, ditemani
secangkir susu yang sedikit menyegarkan tubuhku. Terdengar suara music jazz
yang menghibur seakan menemani diri ini. Sudah lima menit aku menunggu, tetapi
Fani belum juga datang. Tiba-tiba ada yang menepuk pundakku dari belakang dan
mencium pipiku “maaf maaf ya re gue telat, tadi macet” ujar fani memberi alasan
ketelatannya.
“Iya gpp, ada
apa ni lo nyuruh gue kesini?” Tanyaku dengan polos.
“Biasalah gue mau
tanya gimana hubungan lo sama Tio?” dengan tampang kepo Fani.
“Temen biasa”
jawabku singkat.
“Leo?”
“Temen”
“Panji, Agung,
dan Sadam?”
“Temen juga !”
Terkadang aku
risih, Fani selalu menyodorkan dan mengenalkan lelaki padaku, apa si maunya?
Dia memang sahabatku dari awal masuk kuliah, dia selalu bahagia melihat
hubunganku dengan Andre, karena Andre adalah lelaki yang baik yang selalu
membuatku bahagia. Hingga suatu ketika Andre menelfonku dan mengakhiri hubungan
ini. Aku begitu kaget pada saat itu tetapi aku tidak bisa menahannya, memang
waktu tiga tahun pacaran adalah waktu yang menjenuhkan, tetapi mengapa dia
setega itu menghancurkan hubungan ini.
Fani adalah
sahabatku, dia yang paling marah saat Andre meninggalkanku. Dia yang paling
peduli menghiburku, tapi cara itulah membuatku risih. Seakan tidak ada jalan
lain selain mendekatkan aku dengan teman-teman lelakinya. Hingga sampai kami
luluspun Fani masih seperti itu.
“Re, ini sudah
empat tahun berlalu. Sampe kapan lo mau gini terus? Andre nggak mungkin balik
sama lo. Lu liat facebook kemaren? Andre wisuda, dan sudah ada Luna yang
mendampinginya.” Ucap Fani untuk kesekian kalinya menyadarkanku.
“Fani, Andre
pasti balik sama gue, dia udah janji kok sama gue kalo suatu saat gue sama dia
akan nikah, punya rumah impian dan jalan-jalan ke Belanda. Di selalu bilang gue
cinta terakhirnya, dan dia kuliah bekerja itu buat gue!” bentakku.
Suasana diam
sejenak, aku tau maksut Fani baik, dia ingin melihatku bahagia, tapi itu malah
menyiksaku. Andre tidak akan tergantikan, sekalipun dia sudah meninggalku
karena Luna, adik kelasnya yang merusak hubunganku. Fani terdiam dan membuka
laptop.
“Nih liat !
(menyerahkan laptop kepadaku) liat jari manis Luna yang sudah berhiaskan cincin
cantik dari Andre. Mereka udah tunangan, masih juga lo berfikiran seperti tadi?
Berharap Andre akan kembali dan nikahin lo? Gimana dengan Luna? Dasar Sinting!”
“Lo temen gue
apa Luna? Lo kenal Luna pun enggak, tapi kenapa lu seakan membela dia dan
nyakitin gue!”
“Rere sadar !
gue bukan bela Luna dan nyakitin lo, tapi disini lo harus terima kenyataan kalo
Andre nggak mungkin balik sama lo, lo nggak bisa ngikutin ambisi lo yang nggak
mungkin” ucap Fani dengan sabar menasihatiku.
“Fan, gue sayang
sama Andre. Gue mau nunggu dia Fan, please jangan buat gue tersiksa” (menangis dipundak
Fani).
“Yaudah re kalo
itu emang mau lo, maafin gue ya” menenangkanku.
Udara semakin
dingin, lampu lampu taman disekeliling caffe sudah menyala. Malam datang
menjemputku untuk pulang. Aku ingin istirahat saat ini, lelah sekali rasanya,
bukan Cuma tubuhku tetapi juga hatiku. Untunglah ada Fani, dia menguatkanku dan
mengantarkan aku pulang. Terimakasih Fani, terimakasih sahabatku J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar