Selasa, 14 April 2015

Expo Kimia ??  Sesuatu di UPI

Pagi yang cerah, kami seluruh anggota LKM akan bergegas untuk berkunjung ke Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) di Bandung untuk mendukung LKM di ajang Neuron Award. Tepat pukul 06.30 pagi bus UNJ yang disediakan dari kampus sudah berada di depan Masjid Alumni. Sebelum berangkat Kakak Eng membagikan baju kepada kakak-kakak lainnya yang belum memakai baju seragam. Beruntung cuaca sangat cerah merestui kami untuk menuju UPI Bandung. asik udah lama ga ke bandung lagi ” ujar oby saat menaiki bus.
Waktu menunjukan pukul 07.00 WIB. Kami semua sudah berada di dalam bus. Sebelum berangkat Kak Sherly mengabsen seluruh anggota dan selanjutnya kak Ghozi memimpin doa agar kita selamat sampai tujuan.
***
Sampai di UPI !!
Ketika sampai di UPI bus kami pakir di halaman masjid UPI, setelah turun kak Noufal memberikan tugas untuk angkatan 2011 dan 2010 untuk membuat liputan tentang apa saja yang berkaitan UPI. Setelah itu kami menuju gedung Teknik, tempat perlombaan ajang Neuron Award diadakan. Namun ternyata jumlah kami terlalu banyak untuk mendukung dan masuk keruangan perlombaan itu, jadi yang masuk hanya kakak-kakak tertentu saja. Angkatan tahun 2010 dan 2011 akhirnya dibebaskan saja untuk mencari bahan untuk membuat liputan.
            Kami berjalan-jalan mengelilingi UPI. pemandangan di UPI dan bentuk bangunan gedungnya beserta tamannya indah sekali,membuat kami untuk bergaya difoto, namun saya masih bingung untuk menentukan apa yang akan jadi bahan untuk liputan saya.
Setelah itu tibalah kami di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) UPI. ketika saya masuk orang pertama yang saya temui adalah Kak Resta Ratna Ningsih, beliau dari Fakultas MIPA jurusan Kimia. Kak Resta adalah salah satu anggota dari Organisasi Himpunan Mahasiswa (HIMA) Kimia. Setelah kami saling kenal mulailah saya mewawancarai kak Resta mengenai Kegiatan HIMA Kimia untuk bahan liputan saya.
***
Mulai Meliput !!
HIMA Kimia adalah organisasi yang sudah lama berdiri di UPI, perkumpulan mereka harinya tidak menentu, terkadang bisa sampai setiap hari jika mereka sedang mengadakan kegiatan-kegiatan tertentu. Prestasi mereka cukup banyak, salah satunya ialah mereka pernah masuk tiga besar Olimpiade Nasional.
Ada kegiatan yang menarik yang akan mereka adakan di bulan desember yaitu ‘Expo Kimia’. Expo Kimia diadakan dalam 3 bagian, yaitu Cemistery Day yang temanya Go Green, maka dalam acara Cemistery Day mereka mengadakan acara pembagian pohon kecil atau bibit pohon untuk penanaman ke rumah rumah penduduk di sekitar daerah Dago.
Pada bagian yang kedua mereka mengadakan acara ‘Asah Terampil Kimia’ itu adalah ajang cerdas cermat kimia SMA yang akan mereka adakan. Ajang cerdas cermat tersebut diperuntukan bagi SMA-SMA yang berada di Jawa Barat, Jakarta, dan Banten. Penyisihannya diadakan di daerah masing-masing lalu finalnya akan diadakan di UPI.
Kemudian pada bagian ketiga mereka mengadakan acara ‘C3’ yaitu tentang penulisan karya Ilmiah se SMA. Jadi mereka juga sama pada bagian kedua yaitu mengadakan lomba penulisan karya ilmiah se SMA Jawa Barat, Jakarta , dan Banten. Finalnya akan diadakan di UPI, dan para peserta finalisnya akan mempresentasikan karya ilmiah mereka di Laboratorium UPI ‘OpenLab’ sehingga mereka akan melalukan praktikum sederhana untuk SMA.
Itulah hasil liputan saya dan tak terasa sudah jam 4 sore. Akhirnya pertemuan saya dan kak Resta harus berpisah sampai disini. Banyak hal yang saya dapat dari UPI terutama pada kegiatan HIMA KIMIA nya, kegiatan mereka amatlah menarik, semoga Organisasi yang ada di UNJ bisa mencontohnya dan mengadakan acara yang lebih menarik dari itu.

Setelah itu saya pun kembali lagi ke teman-teman. Kami berkumpul kembali dan bergegas untuk pulang. Waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 WIB dan itu artinya saatnya pulang, kami semua naik ke bus tidak lupa kak Sherly mengabsen dahulu takut ada yang tertinggal dan dilanjutkan dengan kak Ghozi yang memimpin doa agar kita selamat sampai Jakarta. Amiiiinnnnn.
MENGGUGAT UJIAN NASIONAL

Korban yang Berjatuhan
Diawali dari Cerita Naylulu Izza, Fina Af’idatussofa, dan Siti Qona’ah. Mereka adalah siswa dari SMP Alternatif Qaryah. Mereka bercerita tentang UN yang mereka ikuti, dimana di sekolah itu UN bukan sesuatu hal yang diwajibkan, tapi mereka ingin mencoba dan merasakan seperti apa UN itu.
Mereka mengikuti UN tanpa bekal dari sekolah, sehingga mereka harus berusaha sendiri mencari sumber buku yang sesuai dengan kurikulum dan mempelajarinya dirumah. Sungguh miris, mereka merasakan rasa tersisih yang menyeruak. Dimana soal UN yang dibuat secara sepihak dan dijadikan penentu keputusan. Membuat siswa menghalalkan segala cara agar lulus.
UN bukanlah mengukur kemampuan pelajar, melainkan untuk mengukur keberuntungan pelajar. Maka hendaknya ujian akhir sebuah sebuah sekolah diganti dengan sesuatu yang lebih rasional, logis, dan rill. Bukan sekedar fiktif belaka, sebagaimana yang menjelma dalam tiap untaian soal. Jadi, untuk ujian kelulusan pun tidak perlu diseragamkan.
Selanjutnya tentang suara anak yang disenyapkan. Cerita itu adalah unek-unek anak peserta UN, mereka memprotes keras penyelenggaraan UN yang baru saja berlangsung. Mereka bilang “bagaimana mungkin mereka sudah capek belajar selama tiga tahun dengan prestasi yang lumayan, namun tiba-tiba nasibnya ditentukan oleh UN yang hanya berlangsung tiga kali dua jam itu”
Sementara isi kurikulum yang diberikan tiap daerah berbeda, proses belajar yang berbeda serta perbedaan kualitas para guru dan kualitas sarana dan prasarana. Apakah hal Un menjadi standardisasi melihat perbeda-berbedaan yang ketimpang itu?
Yang terjadi adalah, dengan adanya UN, anak didik justru secara sistematis sudah mulai diajarkan untuk korupsi dan manipulasi. Mereka melakukannya bukan karena dari lahirnya mereka memeng tidak jujur, tetapi lebih karena keadaan terpaksa.
Elegi bagi korban UN menjadi bukti nyata jika UN menbuat peserta didik stress. Endang Lestari siswa kelas 3 SMP Negeri 1 Kerjo, Jawa Timur, nekat gantung diri karena dinyatakan tidak lulus UN. Berita tersebut menambah daftar panjang Korban UN semenjak UN diberlakukan sebagai criteria penentu kelulusan yang saling memveto satu dengan yang lain.
Pindah jalur pendidikan hanya untuk mendapatkan ijazah dari pendidikan kesetaraan yang tak pernah dijalankan anak menambah beban mental dan psikologis pada usia anak bagi korban UN. Murid-murid yang berbuat jujur dalam UN malah dihina, Para guru yang membongkar kecurangan UN malah dituduh sok suci, hak tersebut menjadi “korban di altar persaingan global” yang diceritakan oleh Susi Fifti.
Terjadilah favoritisme pelajaran, hanya pelajaran yang laku di pasar yang akan dianggap pantas menjadi pengetahuan dan kerenanya hanya itu yangperlu diujikan. Namun dalam hal tersebut, yang menjadi korban bukan saja yang tidak lulus tetapi juga yang lulus. Kerena keberhasilan mereka pada dasarnya hanyalah keberhasilan semu.

Prinsip Pedagogi yang Dilanggar
Pendidikan sekolah yang bermutu dan perbandingan perkembangan Negara-negara yang yang kini masuk dalam jajaran Negara maju, adalah Negara yang menjadikan sekolah sebagai wahana untuk membangun suatu Negara melalui proses transformasi budaya.
Maka, baik buruknya sistem pendidikan tidak boleh dinilai dari sekedar nilai beberapa nilai mata pelajaran yang di-UN-kan, melaikan harus dilihat dalam perspektif  yang lebih luas. Perbaikan yang perlu dilakukan tak boleh hanya sebatas upaya-upaya mengejar standar nilai mata pelajaran-pelajaran tersebut-betapun tinggi nantinya standar itu dipatok—melainkan pada aspek-aspek yang jauh lebih kompleks.
Strategi mencari solusi UN adalah peningkatan  pendidikan yang merata dan mendidik insan Indonesia menjadi manusia seutuhnya. Sehingga UN seharusnya difungsikan sebagai pemetaan kualitas yang kemudian dijadikan salah satu landasan untuk memperbaiki pelayanan pendidikan.

Kebijakan Pendidikan Yang Menyimpang
Kebijakan  pendidikan nasional yang menggunakan episteme ekonomi adalah mengembangkan budaya persaingan di dalam dunia pendidikan.  Kepentingan anak untuk berkembang dipacung oleh sistem UN, serta profesionalisme departemen pendidikan nasional yang dipertanyakan keprofesionalannya merupakan wujud dari kebijakan yang menyimpang.
Selanjutnya menyoalkan peraturan pemerintah standar nasional pendidikan yang menyimpang dari dunia pendidikan dan UU. Paradigma pendidikan dan pendapat penguasa, bapak Jusuff Kalla yang berpendapat bahwa  UN tak dapat ditawar dan harus dilakukan agar anak sekolah terlatih untuk bekerja keras dan berani bersaing. Inilah paham penguasa yang tidak terhambat oleh ketidakpahaman.
Oleh karena itu diperlukan gugatan citizen law suit (Gugatan yang diajukan oleh siapa saja yang merasa dirugikan, sehingga memberikan kesempatan luas bagi masyarakat untuk terlibat dalam memperbaiki kebijakan pemerintah yang tidak tepat.) terhadap kebijakan UN.

Kemanakah kita harus melangkah?
Kriminalitas pendidikan terjadi jika manusia, perumus kebijakan dan pengelola pendidikan menangani amanah dengan sikap yang salah. Jika lima puluh tahun dari sekarang, saat seluruh bangsa telah lengkap dicerdaskan  melalui strategi dan standar UN, apa yang pasti terjadi? Jika konsep yang salah itu diteruskan, tak mustahil jutaan anak bangsa akan terbunuh sebelum mati. Kegairahannya, potensinya, aspirasinya, hak pribadinya, semua akan terotrofi oleh UN.
Penilaian hasil pendidikan melalui UN dalam batas-batas tertentu masih bisa dipakai sejauh diterapkan dalam kerangka evaluasi dan perbaikan secara structural, bukan dalam kerangka evaluasi kinerja individu. Karena jika UN dipakai sebagai tolak ukur kelulusan siswa merupakan progam yang tidak menghargai keunikan pribadi.
Untuk memulihkan permasalahn tersebut diperlukan adanya penciptaan lagi rasa Nasionalisme dalam era globalisasi dengan cara pendidikan multikultur untuk nasionalisme yang baru.

SINTING

Semilir angin ini seakan menentramkan jiwa. Aku duduk di bangku pojok halaman coffe, ditemani secangkir susu yang sedikit menyegarkan tubuhku. Terdengar suara music jazz yang menghibur seakan menemani diri ini. Sudah lima menit aku menunggu, tetapi Fani belum juga datang. Tiba-tiba ada yang menepuk pundakku dari belakang dan mencium pipiku “maaf maaf ya re gue telat, tadi macet” ujar fani memberi alasan ketelatannya.
“Iya gpp, ada apa ni lo nyuruh gue kesini?” Tanyaku dengan polos.
“Biasalah gue mau tanya gimana hubungan lo sama Tio?” dengan tampang kepo Fani.
“Temen biasa” jawabku singkat.
“Leo?”
“Temen”
“Panji, Agung, dan Sadam?”
“Temen juga !”
Terkadang aku risih, Fani selalu menyodorkan dan mengenalkan lelaki padaku, apa si maunya? Dia memang sahabatku dari awal masuk kuliah, dia selalu bahagia melihat hubunganku dengan Andre, karena Andre adalah lelaki yang baik yang selalu membuatku bahagia. Hingga suatu ketika Andre menelfonku dan mengakhiri hubungan ini. Aku begitu kaget pada saat itu tetapi aku tidak bisa menahannya, memang waktu tiga tahun pacaran adalah waktu yang menjenuhkan, tetapi mengapa dia setega itu menghancurkan hubungan ini.
Fani adalah sahabatku, dia yang paling marah saat Andre meninggalkanku. Dia yang paling peduli menghiburku, tapi cara itulah membuatku risih. Seakan tidak ada jalan lain selain mendekatkan aku dengan teman-teman lelakinya. Hingga sampai kami luluspun Fani masih seperti itu.
“Re, ini sudah empat tahun berlalu. Sampe kapan lo mau gini terus? Andre nggak mungkin balik sama lo. Lu liat facebook kemaren? Andre wisuda, dan sudah ada Luna yang mendampinginya.” Ucap Fani untuk kesekian kalinya menyadarkanku.
“Fani, Andre pasti balik sama gue, dia udah janji kok sama gue kalo suatu saat gue sama dia akan nikah, punya rumah impian dan jalan-jalan ke Belanda. Di selalu bilang gue cinta terakhirnya, dan dia kuliah bekerja itu buat gue!” bentakku.
Suasana diam sejenak, aku tau maksut Fani baik, dia ingin melihatku bahagia, tapi itu malah menyiksaku. Andre tidak akan tergantikan, sekalipun dia sudah meninggalku karena Luna, adik kelasnya yang merusak hubunganku. Fani terdiam dan membuka laptop.
“Nih liat ! (menyerahkan laptop kepadaku) liat jari manis Luna yang sudah berhiaskan cincin cantik dari Andre. Mereka udah tunangan, masih juga lo berfikiran seperti tadi? Berharap Andre akan kembali dan nikahin lo? Gimana dengan Luna? Dasar Sinting!”
“Lo temen gue apa Luna? Lo kenal Luna pun enggak, tapi kenapa lu seakan membela dia dan nyakitin gue!”
“Rere sadar ! gue bukan bela Luna dan nyakitin lo, tapi disini lo harus terima kenyataan kalo Andre nggak mungkin balik sama lo, lo nggak bisa ngikutin ambisi lo yang nggak mungkin” ucap Fani dengan sabar menasihatiku.
“Fan, gue sayang sama Andre. Gue mau nunggu dia Fan, please jangan buat gue tersiksa” (menangis dipundak Fani).
“Yaudah re kalo itu emang mau lo, maafin gue ya” menenangkanku.

Udara semakin dingin, lampu lampu taman disekeliling caffe sudah menyala. Malam datang menjemputku untuk pulang. Aku ingin istirahat saat ini, lelah sekali rasanya, bukan Cuma tubuhku tetapi juga hatiku. Untunglah ada Fani, dia menguatkanku dan mengantarkan aku pulang. Terimakasih Fani, terimakasih sahabatku J
Pembangunan Sumber Daya Manusia
Oleh: Risda Maleva Juni

Pembangunan sumber daya manusia dapat diartikan secara umum sebagai upaya-upaya untuk meningkatkan daya produksi manusia. Manusia yang berdaya produksi tinggi disebut sebagai manusia yang berkualitas tinggi. Biasanya pembicaraan tentang pembangunan sumber daya manusia dalam literatur ilmu ekonomi, yang dilakukan dalam konteks pembangunan, memandang manusia sebagai salah satu factor produksi di luar sumber daya alam, modal, dan teknologi (salim 1979; Hidayat 1979; Efendi 1992).
Selanjutnya kualitas seorang manusia sebagai sebuah faktor produksi ditentukan oleh kondisi fisiknya, tingkat pendidikannya, dan keterampilan yang dimilikinya. Manusia yang berkualitas tinggi adalah manusia yang sehat badannya dan memperoleh cukup pendidikan dan pelatihan.
Satu lagi faktor penting penentu kualitas sumber daya manusia adalah mentalitas manusia. Di Indonesia, faktor mentalitas manusia baru akhir-akhir ini saja ramai di perhitungkan orang sebagai unsur penentu kualitas sumber daya manusia (Effendi; 1996). Sedangkan faktor mentalitas ini tidak bisa diukur dengan angka sehingga sulit untuk menilainya.
Mentalitas ini berkaitan dengan etos kerja, nilai, pola pikir, dan pandangan hidup yang dianut oleh manusia itu sendiri. Contohnya kebangkitan kembali Jerman dan Jepang setelah hampir semua insfrastruktur di negeri mereka hancur pada perang dunia II, juga anggap sebagai peranan dari faktor mentalitas bangsa tersebut yang begitu tegar, disiplin, kreativ, inovatif, dan berdaya produksi tinggi.
Faktor mentalitas ini mengacu pada konsep yang mengandung kombinasi aspek kejiwaan dan akal budi manusia yang hidup di dalam satu lingkungan kultur tertentu (faktor psikokultural). Selanjutnya faktor ini dikaitkan dengan usaha untuk berproduksi tinggi, maka faktor ini berubah menjadi daya atau energi. Daya psikokultural ini adalah kemampuan mental, kemampuan akal budi sekumpulan individu dalam mendorong diri mereka untuk berproduksi lebih tinggi.
Di Indonesia, Masalah sumber daya manusia memang terletak pada mentalnya, seperti: sikap yang meremehkan mutu, Sifat yang terlalu bernafsu untuk mencapai tujuan tanpa pertimbangan, Sifat tidak percaya diri dan tidak disipin, Sikap mengabaikan tanggung jawab. Banyak orang perpendidikan tinggi tetapi memiliki mental yang buruk seperti para pejabat yang korup dan hakim yang tidak adil karena menerima suapan. “yang dihakimi dan yang menghakimi sama-sama tidak jujur” perkataan Sukarni Ilyas di Tv one.
Untuk membangun sumber daya manusia, bangsa ini harus dimulai sejak dini, dari situlah mereka tidak hanya dituntut untuk belajar dan mengembangkan keterampilan tetapi juga diajarkan untuk disiplin, kreatif, inovatif, bekerja keras dan jujur sehingga dapat menimbulkan manfaat yang baik bagi pembangunan sumber daya manusia ini.
Sedikit cerita tentang pengalaman saya disaat mewawancarai anak jalan di kawasan kota tua. Disana saya bertemu dengan pengamen cilik bernama Bardi (8th). Bardi adalah salah satu pengamen yang tidak ingin beresekolah karena sudah keasyikan mengamen ditambah lagi dengan penghasilannya yang mencapai 90ribu jika kawasan kota tua itu dipenuhi pengunjung.
Selain Bardi saya bertemu dengan pengamen cilik lain bernama Wahyu (10th). Dia mengamen hanya untuk membantu keuangan keluarganya, jadi dia mengamen disaat libur sekolah ataupun terkadang sehabis dia pulang sekolah.  Wahyu sebenarnya dilarang oleh ayahnya untuk mengamen tetapi dia tetap melakukan itu diam-diam agar setidaknya ia mempunyai uang tabungan untuk masuk SMP kelak yang dititipkan kepada sang ibu.
Berikutnya saya juga punya cerita tentang keluarga kecil yang menggantukan hidupnya dari mengamen di kawasan kota tua tersebut. Ibu Rosidah dengan kedua anaknya agnes dan safitri mengamen sedangkan suaminya tergabung dengan komunitas kuda lumping yang dirangkul oleh unit pengelola kawasan kota tua.
Ibu Safitri datang ke Jakarta akibat janji-janji kakak ipar yang akan memberikan pekerjaan, sehingga dia tergiur untuk menjual tanah rumahnya di kampung (Madura) untuk ke Jakarta dan sisa uangnnya diambil oleh sang kakak ipar. Akhirnya ibu Rosidah dan keluarga terpaksa mengamen, karena ini pekerjaan yang bisa ia lakukan, jika ia menjadi buruh cuci, hasilnya tidak sebanding dengan mengamen.  
Dari pengalam tadi, saya rasa harus ada yang dibenahi dalam mentalitas mereka, dari ruang lingkup yang kecil dahulu (psikokultural). Mental mereka sudah merasa puas dengan apa yang di dapat sekarang, etos kerja mereka yang kurang dan kurang memperdulikan pendidikan. Pemerintah harus ikut perperan serta dalam hal ini, anak-anak jalanan harus ditanamkan nilai nilai mentalitas yang baik agar dapat tercipta kualitas sumber daya manusia yang berkualitas. Dalam hal ini tentunya faktor orang tua sangat berperan penting, orang tua tersebut harus membantu pembentukan mental anak tersebut dengan baik.
Untuk secara menyeluruh, pemerintah harus memperbaiki mental penerus bangsa dengan cara memberikan atau memasukan pendidikan pembentuk mental di setiap sekolah dari Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Atas. Pendidikan pembentukan mental bisa diajarkan oleh guru bimbingan konseling yang tentunya dalam pengajarannya dilihat dari faktor psikokultural masing-masing peserta didik.
Selain dari guru konseling, peserta didik juga dapat belajar tentang pendidikan pembentuk mentalitas dari guru ekonomi, jadi guru ekonomi ini bisa menumbuhkan rasa kewirausahaan kepada muridnya, dari kewirausahaan itu murid dapat belajar untuk bekerja keras (etos kerja yang baik), jujur, disiplin, kreatif, dan inovatif.

 Hal tersebut sesuai dengan teori Arthur Lewis  yang menghubungkan faktor-faktor psikokultural yang mendorong kemunculan para wirausaha dengan masalah lingkungan sosial dan zpolitik yang subur bagi pertumbuhan ekonomi.
Ketakutan Bermodal Nekat Sama Dengan Bisa !
Oleh: Risda Maleva Juni

September 2011, saya mendaftarkan diri di Lembaga Kajian Mahasiswa (LKM) dan terlahir dalam angkatan Eros bersama 33 orang lainnya.  LKM memberikan harapan segar untuk saya menjadi lebih terampil dalam public speaking dan menulis serta mengisi otak dengan berbagai wawasan yang dibahas dalam kajian tiap minggunya.
Tidak ada beban bagi saya untuk melangkahkan kaki ke ruang G305 seusai kuliah, disaat sebagian teman yang lainnya pulang kerumah. Keramahan kakak-kakak dalam memperlakukan saya dan teman-teman calon anggota membuat saya semakin antusias dan menikmati keberadaan saya di LKM.
Namun saya sadar, saya terlihat kurang jika dibandingkan dengan teman-teman seangkatan saya. Rasa minder muncul ketika melihat teman-teman Eros yang memang sudah cakap dalam berbicara di public serta wawasan mereka yang lebih luas.  
Waktu berjalan dan saya naik menjadi kakak, memiliki adik yang lucu-lucu dan haus akan ilmu dan keterampilan. Beberapa teman Eros mulai bisa membimbing tapi saya masih saja bingung dengan apa yang bisa saya beri kepada mereka. Salah satu kakak Brain menasehati untuk memperdalam satu hal yang saya minati untuk dibagi.
Seleksi alam mulai terjadi, Eros mulai kehilangan rekan-rekan terbaiknya, satu, dua, tiga, … mereka perlahan pergi. Kekurangan dan rasa minder yang saya miliki membuat saya ingin juga pergi, tapi saya masih ragu untuk melakukannya.
Waktu berjalan lagi dan saya punya adik lagi, kebingungan itu sekarang berubah menjadi ketakutan, apa yang bisa saya beri kepada mereka? Keberadaan saya di dalam divisi penulisan menambah beban untuk saya berbuat lebih sementara ketakutan saya terus menggerayangi.
Minggu demi minggu berjalan, saya tidak mengunjungi G305 dan itu membuat ketakutan saya hilang namun tidak terobati. Rayuan untuk hengkang dari unit yang sudah banyak memberi saya ilmu itu semakin menggoda. Namun teman serekan Eros menguatkan saya, mereka berkata kalau kita punya tanggung jawab disana, langkah kita tinggal satu tingkat lagi, mengajak untuk terus bersama hingga titik akhir.
Terimakasih Egi, Rahmat, Hadi, Rita, Dewan, Tina, Anis, Ardi, dan Riski yang selalu merangkul saya, saya akan temani kalian dalam melangkah, turut membantu untuk LKM lebih baik. Saya sadar begitu banyak PR jika Eros naik, tapi saya percaya kita bisa meskipun bermodal nekat.
Mari kita bangun hubungan yang humanis, yang di dasari oleh tiga faktor interaksi menurut Hubert Bonner, yaitu imitasi, sugesti, dan simpati. Namun tetap fokus dalam menjalankan apa yang sudah kita rencanakan bersama.
Saya menyadari, Eros memang kurang memberikan contoh yang baik untuk adik-adik terlebih diri saya sendiri. Tapi mari kita jadikan itu pembelajaran, kita bangkit bersama untuk memberikan contoh yang baik supaya proses imitasi berfungsi dengan baik. Mengutip dari sebuah acara televisi yang mengatakan “seseorang bisa karena melihat contoh”.
Di kepengurusan selanjutnya Eros akan menjadi BPH, BPH memiliki otoritas lebih dalam menjalankan organisasi ini tanpa mengurangi prinsip MEDIS LKM. Sugesti dapat diterima seseorang dengan baik jika yang memberikannya itu memiliki otoritas. Aturan dan pembagian tugas yang sudah disepakati bersama bisa berjalan dengan baik jika sugesti yang diberikan itu tepat dan dapat diterima.
Kebersamaan saya dengan penghuni G305 sudah berjalan hampir tiga tahun, selama itu pula timbullah perasaan peduli dan rasa kekeluargaan di antara kami. Saya terharu ketika rekan Eros mempertahankan saya untuk tetap melangkah bersama. Sejak saat itu saya sadar, kita ini memiliki rasa, rasa simpati terhadap penghuni G305. Rasa simpati itulah yang semakin menguatkan kita untuk melangkah bersama.
Grand desain ini memang sekedar memperbaiki hubungan atau interaksi antar penghuni G305, karena saya ingin berangkat dari hal yang paling awal. Ketika seorang anak lahir, dia akan beradaptasi, jika adaptasinya baik, dia akan terus hidup, namun jika adaptasinya buruk, bisa saja dia mati.
Saya nekad untuk melangkah dan menciptakan musim baru di LKM. Bermain-main itu menyenangkan, apalagi kalau kita fokus bermain agar menang. Anggaplah bermain itu sebuah proses pembelajaran dan ada fokus di dalamnya hingga berhasil. Jika kita lakukan itu bersama dengan hubungan yang baik, insyaAllah akan terasa lebih mudah.

Eros, saya bersamamu..
Penelitian Serupa Liburan
Oleh Risda Maleva Juni

Seperti biasa, pagi ini mama teriak lagi dari lantai bawah untuk membangunkan gue tidur. Bedanya ini lebih awal, ketika gue liat HP jam menunjukkan pukul 04.50 am.  “Hoams” rasa ngantuk ini masih sangat melekat, tapi teriakan mama tak bisa terhindarkan lagi, pukul 05.08 am gue bangun keluar dari kamar dan turun untuk mandi.
Hari ini dan dua hari kedepan gue mau ke Pengalengan dan Kampung Naga buat penelitian, meskipun gue kurang tau apa yang mau gue teliti. “Hems”  sekarang saatnya check lish: Packing udah, mandi udah, sholat udah, penampilan udah kece, uang jajan juga udah dikasih, berati saatnya berangkat.
bis (4).JPGPukul 06.07 am baru mau jalan, takut telat. Dianter papa cuma sampe halte Busway Halimun karena papa juga harus berangkat kerja. Untungnya TransJakarta sedang bersahabat dan mengantarkan gue ke kampus pukul 06.47 am. Setelah keluar dari halte Busway Rawamangun gue harus jalan kaki menuju bis yang parkirnya BNI, lumayanlah buat olahraga pagi.
Ketika sampai bis ternyata gue nggak telat, masih nunggu mereka yang belum dateng. Di bis gue duduk sama Syifa, temen yang selalu bilang kalo gue punya dunia sendiri dan pelupa. Setelah semua kumpul, bis mulai jalan dan semuanya berdoa agar selamat sampai tujuan.
Di bis gue diem aja dan emang lagi nggak mod untuk percanda. Temen-temen ada yang ketawa kecicikan, nyanyi-nyanyi sambil ngebully Chuaby, buat  video harlem shake, stand up comedy, dan iseng motoin mereka yang sedang tidur. Sialnya ketika gue tertidur, terdengar suara potret kamera arip yang moto muka gue. Gue langsung bangun buat nutup muka dan gue nggak tau foto muka tidur gue itu udah tercipta atau belum “Hoams”.
kebun (7).JPGDi perjalanan gue pusing, mual tapi untungnnya belum muntah. Ba’da zhuhur bis berhenti di tempat makan, kami semua makan nasi, ayam goreng, tahu tempe, dan lalapan beserta sambal. Setelah itu gue sholat zhuhur dan ada juga mereka yang menggabungkannya dengan ashar, tapi gue zhuhur aja deh, sepertinya masih ada waktu lagi nanti.
Akhirnya sampai di Pengalengan, daerah yang terkenal sebagai tempat produksi susu sapi. Disini cuaca agak dingin, pemandangannya indah, ada perkebunan teh, kopi, dan sayur mayur, awan di langin nampak cerah, udara siang menjelang sore ini pun masih segar meskipun sedikit tercium bau asap rokok dari beberapa orang yang membakarnya.
kopi (16).jpgDi Pengalengan gue kebagian untuk neliti perkebunan kopi, untuk sampai ke perkebunan kopi ternyata cukup jauh dan nggak mudah, kami harus melewati rumah-rumah warga, perkebunan teh dan sayur mayur yang jalannya terjal menurun.
kopi (4).JPGDi perkebunan kopi gue mendapat narasumber bernama kang Asep, disana terdapat dua jenis kopi, yaitu kopi Timtim dan kopi Arabika, bedanya daun dan buah kopi Timtim itu lebih besar. Buah kopi yang dipetik untuk disetor ke pengempul itu berwarna merah, dan  biasanya dipetik tiap 15 hari sekali. Untuk Luwak pun juga hanya mau makan buah kopi yang sudah berwarna merah.
Perkebunan kopi itu hutan pemerintah, lima tahun yang lalu ada penyuluhan dari pemerintah untuk menanam kopi. Penyuluhannya yaitu cara untuk menanam dan perawatan tanaman kopi, untuk memulainya petani harus modal sendiri untuk membeli bibit dan pupuk. Tanah dibolehkan menggunakan hutan pemerintah, namun setiap keuntungannya 15% harus disetor ke pemerintah.
Jika dilihat dari segi keuntungan, jelas menanam kopi lebih untung kerena tidak perlu ada penanaman ulang. Tanaman itu terus tumbuh dan berbuah namun jika sudah mencapai ketinggian 2 meter, tanaman kopi itu harus dipotong supaya tidak susah memetiknya.
Memang lumayan banyak petani yang berkebun kopi, sehingga tidak terlihat ada persaingan. Mereka merasa karena sudah sama-sama punya perkebunan, jadi sudah memiliki bagiannya masing-masing dan tidak ada juga sikap saling curiga.
kelompok (3).JPGUntuk pengembangan kopi Luwak di  wilayah ini memang tidak ada, terkendala alat, akses, serta Luwaknya sendiri yang langka. Jadi mereka hanya mengumpulkan biji kopi yang sudah dikeringkan kepada pengempul. Keinginan untuk pengembangan produksi kopi yang lebih baik bagi para petani pastinya ada, namun dengan keterbatasan mereka, mereka sudah merasa cukup sampai ketangan pengempul.
Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 05.00 pm, tapi gue masih sempat mengunjungi kandang sapi milik salah satu warga. Sapinya gendut dan berwarna putih hitam, lucu deh. Sebelum menuju bis, sholat ashar dulu dan tidak lupa beli permen susu khas Pengalengan.
Setelah itu bis jalan menuju rumah makan yang tadi, perut ini masih kenyang sekali rasanya. Ketika sampai disana, menu makanannya sama lagi. Akhirnya makan berdua Syifa, tapi ambil ayamnya dua hehe. Kemudian sholat magrib dan masuk bis lagi menuju penginapan di Garut.
Di perjalanan gue bener-bener ngerasa mual, Syifa udah ngasih minyak kayu putih dan obat antimo tapi nggak mempan, gue pun tiba-tiba muntah (muntah ayam). Sesampainya di penginapan, gue bareng sama Ayu, dan giliran dia yang muntah. Gue udah urut-urut lehernya, eh lucunya dia malah nangis. Ayu ayu.. dasar ayu.
lembayung (2).jpgMasuk kamar gue pun langsung rapih-rapih diri, ganti baju dan tidur. Gue sekamar sama Ayu, Chuaby, Nadila, Dedew, Apem, Anti, Wila, Joang, Farah, dan Riri. Mereka masih pada asik percanda gue udah tidur pules. Sampai gue kebangun karena suara berisik ternyata mereka lagi pada main tindih-tindihan. Gue nggak tau apa-apa namanya juga orang tiba-tiba kebangun, eh si joang nanya:
“Tidur da?”
“Enggak.” Jawab gue sambil melambaikan tangan.
Eh gue malah ditindihin. Ternyata permainannya, siapa yang bersuara, dia yang di tindihin. Kaget, nggak tau apa-apa malah jadi korban. Pas di tindihin malah gue sempet bilang:
“Woi, gue lagi nggak ulang tahun juga.”
Biasanya kan yang dikerjain yang ulang tahun, soalnya si Chuaby pada saat itu lagi ulang tahun, ilang langsung rasa ngantuk gue. Yaudah akhirnya gue nyeduh super bubur dan makanin cikinya Riri, eh syaratnya suruh ngerekam mereka Harlem Shake. Sungguh nggak bisa diem temen-temen sekamar gue ini.
bebek.jpgSabtu pagi tiba, gue udah mandi nih, udah cantik, dan udah aikeching juga. Keluar kamar untuk menjajah kamar lain, masuk ke kamar si Oby Cuantik bisa makan chitato, wafer sama bolu coklat sambil memberi makan bebek-bebek yang sedang pada berenang. Masuk ke kamar Maria alias BCL nggak ada makanan, akhirnya cuma tidur-tiduran aja.
Saatnya sarapan, dan lagi-lagi ayam namun tetap gue coba nikmati. Menikmatinya di Saung bersama Ayu, Dila, dan Chuaby sambil cerita sedih tentang teman sajawat yang tidak bias ikut bersama kami dan kami begitu tersentuh dengan apa yang dia derita. Sarapan sudah kemudian presentasi, ya mungkin itu hanya sebuah formalitas, menceritakan tentang pengamatan kami di Pengalengan kepada dosen.
Setelah  itu siap-siap ke bis untuk menuju ke Kampung Naga, obat Tolak Angin sudah disiapkan. Di perjalanan, bau bis sungguh menyiksa. Gue sedot sedikit demi sedikit obat Tolak Angin itu, namun tetap gagal, gue pun muntah (muntah ayam lagi). Sekarang gantian Ayu yang ngerawat gue, ngusapin minyak ke badan, leher, dan hidung gue. Dila pun ngerokin gue di bis saat yang lain pada turun untuk makan.
Jujur nggak pengen turun untuk makan, tapi akhirnya di paksakan untuk makan. Gue ambil sedikit nasi dan ikan serta kuah sayur sop, gue minum seteguk demi seteguk air teh hangat. Salah satu dosen menyuruh gue untuk minum promag, gue ragu karena ini bukan maag, tapi harus gue minum juga, “Hoams” yasudah.
kampung (36).JPGMasuk lagi ke bis menuju Kampung Naga, beberapa saat kemudian gue pun muntah lagi (kali ini muntah ikan), ternyata promag pun tak ampuh. Sudah tiga jenis obat yang masuk tapi tidak ada satupun yang ampuh.
Akhirnya sampai ke Kampung Naga, tapi untuk masuk perkampungan itu harus turun melewati anak tangga yang jumlahnya 400an. Ketika gue turun, gue nggak sempet ngitung berapa jumlah anak tangga itu, karena gue ngedampingin Gerhana yang lagi nggak enak badan.
bale (2).jpgDi Kampung Naga gue menginap di rumah nenek Rosi dan Kakek Wahidi. Ketika gue pertama kali dateng, gue langsung nanya kamar mandi dimana. Bodohnya, karena gue baru sadar kalau semua rumah tidak ada yang punya kamar mandi. Jika mau mandi harus pergi ke luar yang tempatnya ada di luar perumahan warga, tempatnya agak terbuka yang tingginya hanya sekitar satu sampai satu setengah meter. Untuk buang air kecil atau besarpun harus pergi ke jamban dan tidak ada listrik.
Kemudian kami semua berkumpul di “bale” sebuah tempat untuk berkumpul di daerah Kampung Naga. Disini kuncen atau sesepuh yang di hormati memberikan sambutan,  penjelasan serta tanya jawab dengan mahasiswa mengenai Kampung Naga ini. Memang agak sedikit terbatas, sehingga kamipun diajak berkeliling Kampung Naga oleh para pemandu yang sekaligus memberi kesempatan untuk bertanya tentang sesuatu yang masih jadi tanda tanya para mahasiswa.
Selesai dari semua itu kami semua balik ke rumah warga yang di tumpanginya masing-masing. Masuk ke rumah nenek Rosi lagi kami sudah disuguhkan makan malam, dan lagi-lagi ayam. Ya Tuhan bisa mabok ayam deh ni gue. Selama di rumah nenek Rosi, gue, Farah, dan Anti hanya diem dan memperhatikan nenek Rosi, Chuaby dan Dila berbicara pakai logat sunda, tapi tetep gue deketin mereka dan mendengarkannya mau itu ngerti ataupun enggak.
rumah (2).JPGKetika hari sudah menjelang malam, nenek Rosi mengeluarkan bantal untuk kami tidur, sebelum itu kami duduk bersama bercengkrama tentang Kampung Naga ini. Di sela-sela perbincangan, terselip kisah cinta nenek Rosi dan kakek Wahidin. Kami tertawa mendengarkan mereka berdua bercerita saat awal mereka kenal, pacaran, nikah, dan hingga sekarang.
Ketika kami menengok kamar nenek Rosi dan Kakek Wahidin, kami bingung kenapa ada dua ranjang yang dibatasi triplek. Ternyata mereka memang sudah lama tidak seranjang, bukan karena cerai tapi karena sudah bosan. Pernikahan mereka memang sudah setengah abad lebih dan menghasilkan satu anak lelaki yang menikahi salah satu anak wanita kuncen Kampung Naga.
kampung (8).jpgSetelah kami puas berbincang, rasa kantuk muncul dan kami semua pun tidur. Ketika kami masih terlelap tidur, pukul 02.00 am nenek Rosi sudah terbangun. Entah apa yang dilakukannya, yang kami tahu ketika kami bangun, nenek Rosi sedang memasak. Chuaby sudah di dapur bersama nenek Rosi dan gue pun menghampiri mereka sambil menghangatkan diri di dekat tungku api tempat nenek Rosi memasak.
Farah dan Dila sudah mandi tapi gue ragu untuk itu. Sugesti tentang air yang tidak bersih serta tempat mandi yang agak terbuka membuat gue nggak pengen mandi tapi akhirnya mandi juga dan itu pengalaman yang benar-benar “WAW” dan nggak akan gue lupain seumur hidup.
Semuanya sudah mandi, sudah packing pula, bertanda sudah saatnya pulang. Sebelum itu nenek Rosi menyuguhkan kami sarapan, tapi gue lebih memilih untuk sarapan super bubur. Bukannya gue nggak suka sama masakan nenek Rosi, tapi gue takut muntah ayam lagi, karena memang menunya ayam lagi.
kampung (44).JPGJoang mengingatkan gue untuk minum obat antimo, tapi gue agak ragu dengan khasiatnya. Joang tetep membujuk dan akhirnya gue minta dan minum antimo punya Alfiani. Setelah semuanya rapih, kami pamit dengan nenek Rosi, ketika salaman nenek Rosi mendoakan kami dengan bahasanya yang tidak kami mengerti, tapi kami yakin pasti nenek Rosi mendoakan kami selamat sampai tujuan.
Untuk kembali ke bis, berarti gue harus menaiki 400an anak tangga itu. Karena gue lagi tidak ada kerjaan, sembari naik tangga gue hitung jumlah anak tangga itu. Dengan nafas yang ngos-ngosan, kaki yang pegel dan punggung yang membawa tas, gue naiki anak tangga itu sampai ujungnya. Terhitung ada 440 anak tangga yang gue hitung tapi itu berbeda dengan hitungan teman yang lain. Entahlah siapa yang benar, yang jelas gue nggak akan menghitung ulangnya lagi.
Pelepasan dilakukan secara adat, setelah itu kami kembali ke bis. Di sepanjang jalan gue tertidur, mungkin obat itu berpengaruh dan gue gk muntah. Berenti di Ciamplas untuk membeli oleh-oleh, gue beli sale pisang, stick daun singkong, kripik ubi ungu, dan kripik tempe buat keluarga tercinta dirumah.

Lanjut lagi perjalanan pulang, semua berjalan lancar. Meskipun gue nggk tertidur, gue mendengarkan musik di HP dengan keras pake henset. Gue menikmati itu dengan menggoyangkan kepala, tangan, dan kaki dengan mulut cuap-cuap. Mungkin itu salah satu dunia gue sendiri yang sering dibilang Syifa. Over all perjalan ini menyenangkan dan pulang di jemput papa lagi. The End  ~

Selasa, 20 Januari 2015

Betawi dan Jakarta

Jakarta sebagai Ibukota Negara merupakan pusat pemerintahan, sekaligus pusat perekonomian Indonesia. Hal tersebut menjadi daya tarik pendatang untuk mengadu nasib dan menetap. Mereka datang dari berbagai daerah dengan suku yang berbeda-beda, mempengaruhi eksistensi penduduk asli Jakarta yang bersuku betawi.
Perkembangan kota Jakarta menjadi kota metropolitan secara perlahan dan sadar menyingkirkan penduduk aslinya. Pembangunan gedung-gedung pencakar langit yang dibangun untuk lapangan pekerjaan, hotel dan apartemen yang dibangun untuk tempat tinggal yang bernuansa modern serta mall-mall yang ada untuk memuaskan kebutuhan.
Penduduk asli Jakarta nyatanya tak banyak yang bertahan melawan kuatnya arus pembangunan. Tanah-tanah yang mereka miliki dan tempat mereka tinggal dulunya sangat luas, kini perlahan-lahan pindah tangan “dijual”. Tingkat pendidikan mereka yang rendah serta jiwa religious yang sangat kuat membuat mereka mudah tergiur dengan uang. Uang yang mereka dapatkan dari hasil menjual tanah kebanyakan digunakan untuk naik haji.
Kini Jakarta bukan lagi milik suku betawi tetapi Jakarta milik semua suku yang tinggal di dalamnya. Suku betawi mulai menyingkir ke pinggiran Jakarta ataupun ke daerah lain yang berdekatan dengan Jakarta sepert Depok, Tanggerang, Bogor, dll. Mereka menjual tanah dengan harga yang mahal dan membeli tanah lagi di daerah tersebut dengan harga yang lebih murah, sisa dari uang itulah yang digunakan mereka untuk naik haji ataupun ditabung. 
Nampaknya fenomena tersebut dianggap sebagai masalah oleh Pemerintahan Kota Jakarta, Suku Dinas Kebudayaan. Semakin tersingkirnya suku betawi membuat Jakarta kehilangan identitasnya. Maka dari itu dibuatlah pelestarian Budaya Suku Betawi pada suatu daerah di Jakarta.
Awalnya daerah Condet, Jakarta Timur ditargetkan untuk menjadi Cagar Budaya Betawi pada masa pemerintahan gubernur Sutiyoso namun gagal.  Hal tersebut dikarenakan penduduk dari suku betawinya yang mulai berkurang dan semakin berkembangnya daerah Condet sebagai pusat penjualan minyak wangi.
Berdasarkan penelitian Amri Marzali, Guru Besar FISIP UI menuliskan bahwa strategi pembangunan Cagar Budaya Condet sebenarnya sudah ada sejak zaman Ali Sadikin (1966-1977). Pada masa itu Condet adalah daerah pedesaan, meskipun masih di dalam wilayah Jakarta. Hal itu dikarenakan letaknya yang ada di pinggiran kota, sehingga tidak terlalu terpengaruh oleh pesatnya pembangunan. Penduduknya asli suku betawi yang masih terisolasi dari pusat kota, mereka bekerja sebagai petani buah yang memiliki banyak kebun. Kondisi seperti itulah yang membuat Condet terpilih sebagai Cagar Budaya Betawi.
Pada tahun 1972 terjadi pembangunan jalan raya yang membelah Condet, membentang dari Cililitan hingga Cijantung. Hal tersebut membuka akses Condet dengan pusat kota yang dulunya terisolasi. Tujuan utama pemerintah adalah untuk mempermudah distribusi hasil petani Condet ke pusat kota. Namun ternyata hal tersebut juga dimanfaatkan oleh penduduk di pusat kota, mereka membeli tanah untuk membangun rumah dikarenakan harganya yang masih rendah. Kebun-kebun yang dulunya ditanami dukuh dan salak kini berubah menjadi perumahan. Penduduk asli betawi yang menjual tanahnya itu tersingkir ke luar Jakarta. Codet telah berubah.
Oleh karena itu, dicarilah daerah lain yang cocok untuk dijadikan pelestarian budaya betawi. Sebagai gantinya, terpilihlah daerah Setu Babakan, Jagakarsa, Jakarta Selatan sebagai perkampungan budaya betawi. Disana daerahnya masih asri, banyak pohon-pohon  buah khas betawi seperti kecapi, belimbing, rambutan, sawo, pepaya, melinjo, dan nangka yang tumbuh di halaman rumah maupun di sekitar Setu.
 Kemudian disulaplah daerah Setu Babakan itu menjadi perkampungan budaya betawi, beberapa rumah adat betawi dibangun dan rumah-rumah yang ada dibuat seperti rumah adat betawi meskipun tidak terlalu sama, namun tetap mencirikan rumah khas budaya betawi. Selain itu, diadakan pula kegiatan seni tari betawi, lenong betawi, pencak silat, dan seni musik betawi. Tak lupa, dihadirkan juga berbagai makanan khas betawi seperti kerak telor, laksa, toge goreng, gado-gado, soto betawi, geplak, wajik, rengginang, tape uli, dll.
Pintu masuk perkampungan budaya betawi inipun dibuatkan sebuah gapura besar bertuliskan “Pintu Masuk 1 Bang Pitung, Kebudayaan Betawi Setu Babakan. Ondel-ondel sebagai maskot betawi tak lupa dipajang dipintu masuk dan dihadirkan di dalam perkampungan budaya betawi ini.
Panggung besarpun juga dibuat sebagai tempat penampilan kesenian betawi yang biasanya di hadirkan tiap hari minggu. Kantor pengelola perkampungan budaya betawi juga ada terletak di samping panggung besar tersebut. Semua kegiatan yang dilakukan di perkampungan ini, sudah diatur oleh kepala dan para staff pengelola perkampungan budaya betawi, mengingat bahwa perkampungan ini adalah buatan dari Pemerintah Kota Jakarta dan Suku Dinas Kebudayaan.
Dari luar memang terlihat sangat apik kebudayaan betawi ini di kemas, namun ternyata di dalamnya terdapat dilema bagi penduduk asli betawi. Ketika saya berkunjung ke Perkampungan Betawi Setu Babakan, saya berbincang dengan warga yang tinggal disana, ternyata mereka bukan berasal dari suku betawi, mereka adalah pendatang yang sudah lama tinggal disini.
Rumah-rumah adat betawi yang ada di sana nyatanya tidak semuanya dihuni oleh orang betawi tetapi ada juga yang orang Sumatera. Para penjual yang menjajakan makanan khas betawi kebanyakan warga dari luar Setu, seperti dari wilayah Mampang ataupun Srengseng Sawah. Lucunya disini, saya menemui tukang soto betawi yang penjualnya orang bogor, dan bosnya juga orang bogor yang memiliki lima gerobak yang menjual soto Betawi.
Dilemanya ketika saya tahu bahwa tanah yang sekarang dijadikan panggung pertunjukan dan kantor pengelolah dulunya adalah tanah milik orang betawi, dan kini mereka pindah dan menetap ke wilayah lain. Saya pun menanyakan kebenaran hal ini kepada pihak pengelola dan mereka membenarkannya, namun mereka menjawab orang betawi kan banyak tanahnya, jadi kalo tanah satu di jual masih ada tanah yang lain.
          Kenyataan ini terlihat seperti pelestarian budaya yang memaksakan, pemerintah ingin melestarikan budaya betawi tanpa banyak merangkul orang betawi yang ada. Bukankah lebih alami jika yang melestarikan budaya itu adalah orang yang berasal dari budaya itu sendiri. Bukan orang lain yang hanya ingin mencari keuntungan semata.