Selasa, 14 April 2015

Ketakutan Bermodal Nekat Sama Dengan Bisa !
Oleh: Risda Maleva Juni

September 2011, saya mendaftarkan diri di Lembaga Kajian Mahasiswa (LKM) dan terlahir dalam angkatan Eros bersama 33 orang lainnya.  LKM memberikan harapan segar untuk saya menjadi lebih terampil dalam public speaking dan menulis serta mengisi otak dengan berbagai wawasan yang dibahas dalam kajian tiap minggunya.
Tidak ada beban bagi saya untuk melangkahkan kaki ke ruang G305 seusai kuliah, disaat sebagian teman yang lainnya pulang kerumah. Keramahan kakak-kakak dalam memperlakukan saya dan teman-teman calon anggota membuat saya semakin antusias dan menikmati keberadaan saya di LKM.
Namun saya sadar, saya terlihat kurang jika dibandingkan dengan teman-teman seangkatan saya. Rasa minder muncul ketika melihat teman-teman Eros yang memang sudah cakap dalam berbicara di public serta wawasan mereka yang lebih luas.  
Waktu berjalan dan saya naik menjadi kakak, memiliki adik yang lucu-lucu dan haus akan ilmu dan keterampilan. Beberapa teman Eros mulai bisa membimbing tapi saya masih saja bingung dengan apa yang bisa saya beri kepada mereka. Salah satu kakak Brain menasehati untuk memperdalam satu hal yang saya minati untuk dibagi.
Seleksi alam mulai terjadi, Eros mulai kehilangan rekan-rekan terbaiknya, satu, dua, tiga, … mereka perlahan pergi. Kekurangan dan rasa minder yang saya miliki membuat saya ingin juga pergi, tapi saya masih ragu untuk melakukannya.
Waktu berjalan lagi dan saya punya adik lagi, kebingungan itu sekarang berubah menjadi ketakutan, apa yang bisa saya beri kepada mereka? Keberadaan saya di dalam divisi penulisan menambah beban untuk saya berbuat lebih sementara ketakutan saya terus menggerayangi.
Minggu demi minggu berjalan, saya tidak mengunjungi G305 dan itu membuat ketakutan saya hilang namun tidak terobati. Rayuan untuk hengkang dari unit yang sudah banyak memberi saya ilmu itu semakin menggoda. Namun teman serekan Eros menguatkan saya, mereka berkata kalau kita punya tanggung jawab disana, langkah kita tinggal satu tingkat lagi, mengajak untuk terus bersama hingga titik akhir.
Terimakasih Egi, Rahmat, Hadi, Rita, Dewan, Tina, Anis, Ardi, dan Riski yang selalu merangkul saya, saya akan temani kalian dalam melangkah, turut membantu untuk LKM lebih baik. Saya sadar begitu banyak PR jika Eros naik, tapi saya percaya kita bisa meskipun bermodal nekat.
Mari kita bangun hubungan yang humanis, yang di dasari oleh tiga faktor interaksi menurut Hubert Bonner, yaitu imitasi, sugesti, dan simpati. Namun tetap fokus dalam menjalankan apa yang sudah kita rencanakan bersama.
Saya menyadari, Eros memang kurang memberikan contoh yang baik untuk adik-adik terlebih diri saya sendiri. Tapi mari kita jadikan itu pembelajaran, kita bangkit bersama untuk memberikan contoh yang baik supaya proses imitasi berfungsi dengan baik. Mengutip dari sebuah acara televisi yang mengatakan “seseorang bisa karena melihat contoh”.
Di kepengurusan selanjutnya Eros akan menjadi BPH, BPH memiliki otoritas lebih dalam menjalankan organisasi ini tanpa mengurangi prinsip MEDIS LKM. Sugesti dapat diterima seseorang dengan baik jika yang memberikannya itu memiliki otoritas. Aturan dan pembagian tugas yang sudah disepakati bersama bisa berjalan dengan baik jika sugesti yang diberikan itu tepat dan dapat diterima.
Kebersamaan saya dengan penghuni G305 sudah berjalan hampir tiga tahun, selama itu pula timbullah perasaan peduli dan rasa kekeluargaan di antara kami. Saya terharu ketika rekan Eros mempertahankan saya untuk tetap melangkah bersama. Sejak saat itu saya sadar, kita ini memiliki rasa, rasa simpati terhadap penghuni G305. Rasa simpati itulah yang semakin menguatkan kita untuk melangkah bersama.
Grand desain ini memang sekedar memperbaiki hubungan atau interaksi antar penghuni G305, karena saya ingin berangkat dari hal yang paling awal. Ketika seorang anak lahir, dia akan beradaptasi, jika adaptasinya baik, dia akan terus hidup, namun jika adaptasinya buruk, bisa saja dia mati.
Saya nekad untuk melangkah dan menciptakan musim baru di LKM. Bermain-main itu menyenangkan, apalagi kalau kita fokus bermain agar menang. Anggaplah bermain itu sebuah proses pembelajaran dan ada fokus di dalamnya hingga berhasil. Jika kita lakukan itu bersama dengan hubungan yang baik, insyaAllah akan terasa lebih mudah.

Eros, saya bersamamu..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar