Ketakutan
Bermodal Nekat Sama Dengan Bisa !
Oleh:
Risda Maleva Juni
September 2011, saya
mendaftarkan diri di Lembaga Kajian Mahasiswa (LKM) dan terlahir dalam angkatan
Eros bersama 33 orang lainnya. LKM
memberikan harapan segar untuk saya menjadi lebih terampil dalam public
speaking dan menulis serta mengisi otak dengan berbagai wawasan yang
dibahas dalam kajian tiap minggunya.
Tidak ada beban bagi
saya untuk melangkahkan kaki ke ruang G305 seusai kuliah, disaat sebagian teman
yang lainnya pulang kerumah. Keramahan kakak-kakak dalam memperlakukan saya dan
teman-teman calon anggota membuat saya semakin antusias dan menikmati
keberadaan saya di LKM.
Namun saya sadar, saya
terlihat kurang jika dibandingkan dengan teman-teman seangkatan saya. Rasa
minder muncul ketika melihat teman-teman Eros yang memang sudah cakap dalam
berbicara di public serta wawasan mereka yang lebih luas.
Waktu berjalan dan saya
naik menjadi kakak, memiliki adik yang lucu-lucu dan haus akan ilmu dan
keterampilan. Beberapa teman Eros mulai bisa membimbing tapi saya masih saja
bingung dengan apa yang bisa saya beri kepada mereka. Salah satu kakak Brain
menasehati untuk memperdalam satu hal yang saya minati untuk dibagi.
Seleksi alam mulai
terjadi, Eros mulai kehilangan rekan-rekan terbaiknya, satu, dua, tiga, …
mereka perlahan pergi. Kekurangan dan rasa minder yang saya miliki membuat saya
ingin juga pergi, tapi saya masih ragu untuk melakukannya.
Waktu berjalan lagi dan
saya punya adik lagi, kebingungan itu sekarang berubah menjadi ketakutan, apa
yang bisa saya beri kepada mereka? Keberadaan saya di dalam divisi penulisan
menambah beban untuk saya berbuat lebih sementara ketakutan saya terus
menggerayangi.
Minggu demi minggu
berjalan, saya tidak mengunjungi G305 dan itu membuat ketakutan saya hilang
namun tidak terobati. Rayuan untuk hengkang dari unit yang sudah banyak memberi
saya ilmu itu semakin menggoda. Namun teman serekan Eros menguatkan saya,
mereka berkata kalau kita punya tanggung jawab disana, langkah kita tinggal
satu tingkat lagi, mengajak untuk terus bersama hingga titik akhir.
Terimakasih Egi,
Rahmat, Hadi, Rita, Dewan, Tina, Anis, Ardi, dan Riski yang selalu merangkul
saya, saya akan temani kalian dalam melangkah, turut membantu untuk LKM lebih
baik. Saya sadar begitu banyak PR jika Eros naik, tapi saya percaya kita bisa
meskipun bermodal nekat.
Mari kita bangun
hubungan yang humanis, yang di dasari oleh tiga faktor interaksi menurut Hubert
Bonner, yaitu imitasi, sugesti, dan simpati. Namun tetap fokus dalam
menjalankan apa yang sudah kita rencanakan bersama.
Saya menyadari, Eros
memang kurang memberikan contoh yang baik untuk adik-adik terlebih diri saya
sendiri. Tapi mari kita jadikan itu pembelajaran, kita bangkit bersama untuk
memberikan contoh yang baik supaya proses imitasi berfungsi dengan baik.
Mengutip dari sebuah acara televisi yang mengatakan “seseorang bisa karena
melihat contoh”.
Di kepengurusan
selanjutnya Eros akan menjadi BPH, BPH memiliki otoritas lebih dalam
menjalankan organisasi ini tanpa mengurangi prinsip MEDIS LKM. Sugesti dapat
diterima seseorang dengan baik jika yang memberikannya itu memiliki otoritas.
Aturan dan pembagian tugas yang sudah disepakati bersama bisa berjalan dengan
baik jika sugesti yang diberikan itu tepat dan dapat diterima.
Kebersamaan saya dengan
penghuni G305 sudah berjalan hampir tiga tahun, selama itu pula timbullah
perasaan peduli dan rasa kekeluargaan di antara kami. Saya terharu ketika rekan
Eros mempertahankan saya untuk tetap melangkah bersama. Sejak saat itu saya
sadar, kita ini memiliki rasa, rasa simpati terhadap penghuni G305. Rasa
simpati itulah yang semakin menguatkan kita untuk melangkah bersama.
Grand desain ini memang
sekedar memperbaiki hubungan atau interaksi antar penghuni G305, karena saya
ingin berangkat dari hal yang paling awal. Ketika seorang anak lahir, dia akan
beradaptasi, jika adaptasinya baik, dia akan terus hidup, namun jika
adaptasinya buruk, bisa saja dia mati.
Saya nekad untuk
melangkah dan menciptakan musim baru di LKM. Bermain-main itu menyenangkan, apalagi
kalau kita fokus bermain agar menang. Anggaplah bermain itu sebuah proses
pembelajaran dan ada fokus di dalamnya hingga berhasil. Jika kita lakukan itu
bersama dengan hubungan yang baik, insyaAllah akan terasa lebih mudah.
Eros, saya bersamamu..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar