Penelitian
Serupa Liburan
Oleh Risda
Maleva Juni
Seperti biasa, pagi ini
mama teriak lagi dari lantai bawah untuk membangunkan gue tidur. Bedanya ini
lebih awal, ketika gue liat HP jam menunjukkan pukul 04.50 am. “Hoams” rasa ngantuk ini masih sangat
melekat, tapi teriakan mama tak bisa terhindarkan lagi, pukul 05.08 am gue
bangun keluar dari kamar dan turun untuk mandi.
Hari ini dan dua hari
kedepan gue mau ke Pengalengan dan Kampung Naga buat penelitian, meskipun gue
kurang tau apa yang mau gue teliti. “Hems”
sekarang saatnya check lish: Packing udah, mandi udah, sholat udah,
penampilan udah kece, uang jajan juga udah dikasih, berati saatnya berangkat.
Pukul
06.07 am baru mau jalan, takut telat. Dianter papa cuma sampe halte Busway
Halimun karena papa juga harus berangkat kerja. Untungnya TransJakarta sedang
bersahabat dan mengantarkan gue ke kampus pukul 06.47 am. Setelah keluar dari
halte Busway Rawamangun gue harus jalan kaki menuju bis yang parkirnya BNI,
lumayanlah buat olahraga pagi.
Ketika sampai bis
ternyata gue nggak telat, masih nunggu mereka yang belum dateng. Di bis gue
duduk sama Syifa, temen yang selalu bilang kalo gue punya dunia sendiri dan
pelupa. Setelah semua kumpul, bis mulai jalan dan semuanya berdoa agar selamat
sampai tujuan.
Di bis gue diem aja dan
emang lagi nggak mod untuk percanda. Temen-temen ada yang ketawa kecicikan, nyanyi-nyanyi
sambil ngebully Chuaby, buat video harlem shake, stand up comedy, dan iseng
motoin mereka yang sedang tidur. Sialnya ketika gue tertidur, terdengar suara
potret kamera arip yang moto muka gue. Gue langsung bangun buat nutup muka dan
gue nggak tau foto muka tidur gue itu udah tercipta atau belum “Hoams”.
Di
perjalanan gue pusing, mual tapi untungnnya belum muntah. Ba’da zhuhur bis berhenti
di tempat makan, kami semua makan nasi, ayam goreng, tahu tempe, dan lalapan
beserta sambal. Setelah itu gue sholat zhuhur dan ada juga mereka yang
menggabungkannya dengan ashar, tapi gue zhuhur aja deh, sepertinya masih ada
waktu lagi nanti.
Akhirnya sampai di
Pengalengan, daerah yang terkenal sebagai tempat produksi susu sapi. Disini
cuaca agak dingin, pemandangannya indah, ada perkebunan teh, kopi, dan sayur
mayur, awan di langin nampak cerah, udara siang menjelang sore ini pun masih
segar meskipun sedikit tercium bau asap rokok dari beberapa orang yang
membakarnya.
Di
Pengalengan gue kebagian untuk neliti perkebunan kopi, untuk sampai ke
perkebunan kopi ternyata cukup jauh dan nggak mudah, kami harus melewati
rumah-rumah warga, perkebunan teh dan sayur mayur yang jalannya terjal menurun.
Di
perkebunan kopi gue mendapat narasumber bernama kang Asep, disana terdapat dua
jenis kopi, yaitu kopi Timtim dan kopi Arabika, bedanya daun dan buah kopi
Timtim itu lebih besar. Buah kopi yang dipetik untuk disetor ke pengempul itu
berwarna merah, dan biasanya dipetik
tiap 15 hari sekali. Untuk Luwak pun juga hanya mau makan buah kopi yang sudah
berwarna merah.
Perkebunan kopi itu
hutan pemerintah, lima tahun yang lalu ada penyuluhan dari pemerintah untuk
menanam kopi. Penyuluhannya yaitu cara untuk menanam dan perawatan tanaman
kopi, untuk memulainya petani harus modal sendiri untuk membeli bibit dan
pupuk. Tanah dibolehkan menggunakan hutan pemerintah, namun setiap
keuntungannya 15% harus disetor ke pemerintah.
Jika dilihat dari segi
keuntungan, jelas menanam kopi lebih untung kerena tidak perlu ada penanaman
ulang. Tanaman itu terus tumbuh dan berbuah namun jika sudah mencapai
ketinggian 2 meter, tanaman kopi itu harus dipotong supaya tidak susah
memetiknya.
Memang lumayan banyak
petani yang berkebun kopi, sehingga tidak terlihat ada persaingan. Mereka
merasa karena sudah sama-sama punya perkebunan, jadi sudah memiliki bagiannya
masing-masing dan tidak ada juga sikap saling curiga.
Untuk
pengembangan kopi Luwak di wilayah ini
memang tidak ada, terkendala alat, akses, serta Luwaknya sendiri yang langka.
Jadi mereka hanya mengumpulkan biji kopi yang sudah dikeringkan kepada
pengempul. Keinginan untuk pengembangan produksi kopi yang lebih baik bagi para
petani pastinya ada, namun dengan keterbatasan mereka, mereka sudah merasa
cukup sampai ketangan pengempul.
Tak terasa jam sudah
menunjukkan pukul 05.00 pm, tapi gue masih sempat mengunjungi kandang sapi
milik salah satu warga. Sapinya gendut dan berwarna putih hitam, lucu deh.
Sebelum menuju bis, sholat ashar dulu dan tidak lupa beli permen susu khas
Pengalengan.
Setelah itu bis jalan
menuju rumah makan yang tadi, perut ini masih kenyang sekali rasanya. Ketika
sampai disana, menu makanannya sama lagi. Akhirnya makan berdua Syifa, tapi
ambil ayamnya dua hehe. Kemudian sholat magrib dan masuk bis lagi menuju
penginapan di Garut.
Di perjalanan gue
bener-bener ngerasa mual, Syifa udah ngasih minyak kayu putih dan obat antimo
tapi nggak mempan, gue pun tiba-tiba muntah (muntah ayam). Sesampainya di
penginapan, gue bareng sama Ayu, dan giliran dia yang muntah. Gue udah
urut-urut lehernya, eh lucunya dia malah nangis. Ayu ayu.. dasar ayu.
Masuk
kamar gue pun langsung rapih-rapih diri, ganti baju dan tidur. Gue sekamar sama
Ayu, Chuaby, Nadila, Dedew, Apem, Anti, Wila, Joang, Farah, dan Riri. Mereka
masih pada asik percanda gue udah tidur pules. Sampai gue kebangun karena suara
berisik ternyata mereka lagi pada main tindih-tindihan. Gue nggak tau apa-apa
namanya juga orang tiba-tiba kebangun, eh si joang nanya:
“Tidur da?”
“Enggak.” Jawab gue
sambil melambaikan tangan.
Eh gue malah
ditindihin. Ternyata permainannya, siapa yang bersuara, dia yang di tindihin.
Kaget, nggak tau apa-apa malah jadi korban. Pas di tindihin malah gue sempet
bilang:
“Woi, gue lagi nggak
ulang tahun juga.”
Biasanya kan yang
dikerjain yang ulang tahun, soalnya si Chuaby pada saat itu lagi ulang tahun,
ilang langsung rasa ngantuk gue. Yaudah akhirnya gue nyeduh super bubur dan
makanin cikinya Riri, eh syaratnya suruh ngerekam mereka Harlem Shake. Sungguh nggak bisa diem temen-temen sekamar gue ini.
Sabtu
pagi tiba, gue udah mandi nih, udah cantik, dan udah aikeching juga. Keluar
kamar untuk menjajah kamar lain, masuk ke kamar si Oby Cuantik bisa makan chitato,
wafer sama bolu coklat sambil memberi makan bebek-bebek yang sedang pada
berenang. Masuk ke kamar Maria alias BCL nggak ada makanan, akhirnya cuma
tidur-tiduran aja.
Saatnya sarapan, dan
lagi-lagi ayam namun tetap gue coba nikmati. Menikmatinya di Saung bersama Ayu,
Dila, dan Chuaby sambil cerita sedih tentang teman sajawat yang tidak bias ikut
bersama kami dan kami begitu tersentuh dengan apa yang dia derita. Sarapan
sudah kemudian presentasi, ya mungkin itu hanya sebuah formalitas, menceritakan
tentang pengamatan kami di Pengalengan kepada dosen.
Setelah itu siap-siap ke bis untuk menuju ke Kampung
Naga, obat Tolak Angin sudah disiapkan. Di perjalanan, bau bis sungguh
menyiksa. Gue sedot sedikit demi sedikit obat Tolak Angin itu, namun tetap gagal,
gue pun muntah (muntah ayam lagi). Sekarang gantian Ayu yang ngerawat gue,
ngusapin minyak ke badan, leher, dan hidung gue. Dila pun ngerokin gue di bis
saat yang lain pada turun untuk makan.
Jujur nggak pengen
turun untuk makan, tapi akhirnya di paksakan untuk makan. Gue ambil sedikit
nasi dan ikan serta kuah sayur sop, gue minum seteguk demi seteguk air teh
hangat. Salah satu dosen menyuruh gue untuk minum promag, gue ragu karena ini
bukan maag, tapi harus gue minum juga, “Hoams” yasudah.
Masuk
lagi ke bis menuju Kampung Naga, beberapa saat kemudian gue pun muntah lagi
(kali ini muntah ikan), ternyata promag pun tak ampuh. Sudah tiga jenis obat
yang masuk tapi tidak ada satupun yang ampuh.
Akhirnya sampai ke
Kampung Naga, tapi untuk masuk perkampungan itu harus turun melewati anak
tangga yang jumlahnya 400an. Ketika gue turun, gue nggak sempet ngitung berapa
jumlah anak tangga itu, karena gue ngedampingin Gerhana yang lagi nggak enak
badan.
Di
Kampung Naga gue menginap di rumah nenek Rosi dan Kakek Wahidi. Ketika gue pertama
kali dateng, gue langsung nanya kamar mandi dimana. Bodohnya, karena gue baru
sadar kalau semua rumah tidak ada yang punya kamar mandi. Jika mau mandi harus
pergi ke luar yang tempatnya ada di luar perumahan warga, tempatnya agak terbuka
yang tingginya hanya sekitar satu sampai satu setengah meter. Untuk buang air
kecil atau besarpun harus pergi ke jamban dan tidak ada listrik.
Kemudian kami semua
berkumpul di “bale” sebuah tempat untuk berkumpul di daerah Kampung Naga.
Disini kuncen atau sesepuh yang di hormati memberikan sambutan, penjelasan serta tanya jawab dengan mahasiswa
mengenai Kampung Naga ini. Memang agak sedikit terbatas, sehingga kamipun
diajak berkeliling Kampung Naga oleh para pemandu yang sekaligus memberi
kesempatan untuk bertanya tentang sesuatu yang masih jadi tanda tanya para
mahasiswa.
Selesai dari semua itu
kami semua balik ke rumah warga yang di tumpanginya masing-masing. Masuk ke
rumah nenek Rosi lagi kami sudah disuguhkan makan malam, dan lagi-lagi ayam. Ya
Tuhan bisa mabok ayam deh ni gue. Selama di rumah nenek Rosi, gue, Farah, dan
Anti hanya diem dan memperhatikan nenek Rosi, Chuaby dan Dila berbicara pakai
logat sunda, tapi tetep gue deketin mereka dan mendengarkannya mau itu ngerti
ataupun enggak.
Ketika
hari sudah menjelang malam, nenek Rosi mengeluarkan bantal untuk kami tidur,
sebelum itu kami duduk bersama bercengkrama tentang Kampung Naga ini. Di
sela-sela perbincangan, terselip kisah cinta nenek Rosi dan kakek Wahidin. Kami
tertawa mendengarkan mereka berdua bercerita saat awal mereka kenal, pacaran,
nikah, dan hingga sekarang.
Ketika kami menengok
kamar nenek Rosi dan Kakek Wahidin, kami bingung kenapa ada dua ranjang yang
dibatasi triplek. Ternyata mereka memang sudah lama tidak seranjang, bukan karena
cerai tapi karena sudah bosan. Pernikahan mereka memang sudah setengah abad
lebih dan menghasilkan satu anak lelaki yang menikahi salah satu anak wanita
kuncen Kampung Naga.
Setelah
kami puas berbincang, rasa kantuk muncul dan kami semua pun tidur. Ketika kami
masih terlelap tidur, pukul 02.00 am nenek Rosi sudah terbangun. Entah apa yang
dilakukannya, yang kami tahu ketika kami bangun, nenek Rosi sedang memasak.
Chuaby sudah di dapur bersama nenek Rosi dan gue pun menghampiri mereka sambil
menghangatkan diri di dekat tungku api tempat nenek Rosi memasak.
Farah dan Dila sudah
mandi tapi gue ragu untuk itu. Sugesti tentang air yang tidak bersih serta
tempat mandi yang agak terbuka membuat gue nggak pengen mandi tapi akhirnya
mandi juga dan itu pengalaman yang benar-benar “WAW” dan nggak akan gue lupain
seumur hidup.
Semuanya sudah mandi,
sudah packing pula, bertanda sudah
saatnya pulang. Sebelum itu nenek Rosi menyuguhkan kami sarapan, tapi gue lebih
memilih untuk sarapan super bubur. Bukannya gue nggak suka sama masakan nenek
Rosi, tapi gue takut muntah ayam lagi, karena memang menunya ayam lagi.
Joang
mengingatkan gue untuk minum obat antimo, tapi gue agak ragu dengan khasiatnya.
Joang tetep membujuk dan akhirnya gue minta dan minum antimo punya Alfiani.
Setelah semuanya rapih, kami pamit dengan nenek Rosi, ketika salaman nenek Rosi
mendoakan kami dengan bahasanya yang tidak kami mengerti, tapi kami yakin pasti
nenek Rosi mendoakan kami selamat sampai tujuan.
Untuk kembali ke bis,
berarti gue harus menaiki 400an anak tangga itu. Karena gue lagi tidak ada
kerjaan, sembari naik tangga gue hitung jumlah anak tangga itu. Dengan nafas
yang ngos-ngosan, kaki yang pegel dan punggung yang membawa tas, gue naiki anak
tangga itu sampai ujungnya. Terhitung ada 440 anak tangga yang gue hitung tapi
itu berbeda dengan hitungan teman yang lain. Entahlah siapa yang benar, yang
jelas gue nggak akan menghitung ulangnya lagi.
Pelepasan dilakukan
secara adat, setelah itu kami kembali ke bis. Di sepanjang jalan gue tertidur, mungkin
obat itu berpengaruh dan gue gk muntah. Berenti di Ciamplas untuk membeli
oleh-oleh, gue beli sale pisang, stick daun singkong, kripik ubi ungu, dan
kripik tempe buat keluarga tercinta dirumah.
Lanjut lagi perjalanan
pulang, semua berjalan lancar. Meskipun gue nggk tertidur, gue mendengarkan
musik di HP dengan keras pake henset. Gue menikmati itu dengan menggoyangkan
kepala, tangan, dan kaki dengan mulut cuap-cuap. Mungkin itu salah satu dunia
gue sendiri yang sering dibilang Syifa. Over
all perjalan ini menyenangkan dan pulang di jemput papa lagi. The End
~